Drama (2)

 

INTERPRETASI DRAMA „WILHELM TELL“

KARYA FRIEDRICH SCHILLER

1.      Author (pengarang)

 Dalam drama berjudul Wilhelm Tell ini ditulis oleh Friedrich Schiller.  Dia lahir 10 November1759 , dan meninggal pada usia 46 tahun tepatnya pada tanggal 9 Mei1805. Schiller  adalah seorang penyair, filsuf, sejarawan, dan dramatisJerman dan karya-karyanya berpengaruh besar bagi kesusastraan Jerman.

 2.      Titel und Untertitel des Dramas (judul dan sub judul drama)

Judul drama Wilhelm Tell ini adalah untuk menggambarkan perjuangan seorang pahlawan legendaris Swiss yang bernama Wilhelm Tell.

3.      Gattungsbezeichnung (penanda jenis)

Penanda jenis karya ini disebut drama karena terdapat petunjuk lakuan dalam naskah dialog, seperti, Baummggarten: (unfasst seine Knie)= memegang lututnya dengan erat.

4.      Inhalt (Handlungsablauf) des Dramas (isi/ jalannya peristiwa drama)

Pada drama Wilhelm Tell babak pertama ini bersetting di tepi laut yang dilatar belakangi oleh hamparan tebing. Cerita bermula dari 4 orang penduduk dari Uri yaitu wilhelm Tell, Ruodi seorang nelayan, Werni seorang pemburu dan Kuoni seorang penggembala. Ketika mereka sedang memulai aktifitas sehari-hari, datanglah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, yaitu Konrad Baumgarten. Dia ingin menyelamatkan diri karena sedang dikejar-kejar musuh oleh pasukan berkuda. Dia telah membunuh kaisar Burgvogt penguasa daerah Roßberg yang telah mencemarkan aib istrinya. Sempat terjadi perdebatan ketika Baumgarten meminta pertolongan untuk menyeberang. Karena cuaca buruk sehingga Ruodi yang bertugas mengemudikan perahu tidak berani dan tidak mau mengantarkannya. Namun Baumgarten harus segera diselamatkan. Kemudian datanglah Tell yang bisa mengemudikan perahu dan dia bersedia menolong Baumgarten. Akhirnya mereka berdua pergi. Tepat pada saat itu, datanglah dua pasukan berkuda. Mereka marah karena Baumgarten bisa meloloskan diri. Mereka merobohkan dan membakar gubuk Kuoni.

5.      Aufbau des Dramas/ Strukturgesetz (struktur drama)

Wujud fisik drama naskah ini adalah dialog atau ragam tutur. Konflik drama terbangun oleh pertentangan antara tokoh-tokohnya. Konflik dimulai dari awal cerita yakni ketika Baumgarten datang dengan tergesa-gesa meminta pertolongan dari kejaran pasukan berkuda kemudian Baumgerten menceritakan apa yang dialami. Oleh karna itu dia meminta bantuan untuk diantar menyebrang laut untuk menyelamatkan diri. Klimaks atau titik puncak cerita terjadi ketika semua tokoh berdebat untuk menentukan siapa yang akan menyelamatkan Baumgarten. Resolusi atau penyelesaiannya ketika Tell datang dan bersedia menolong Baumgarten menyebrangi lautan. 

Setting atau tempat kejadian peristiwa dilukiskan secara jelas, yakni setting tempat dalam babak pertama ini terjadi didaerah pesisir pantai. Sedangkan setting waktu terjadi ketika waktu akan senja.

6.      Personen der Handlung (tokoh dalam alur)

Penggambaran watak tokoh dalam drama ini tidak digambarkan secara jelas atau tersurat. Hal ini bertujuan agar pembaca atau penonton dapat mengembangkan sendiri watak dari tokoh berdasarkan imajinasinya. Pada babak pertama drama ini masih belum bisa diketahui siapa yang menjadi tokoh antagonis, protagonis, dan tritagonis.

 Berikut ini adalah tokoh-tokoh dan beberapa watak dalam drama ini:

1.      Wilhelm Tell : pemberani, tegas, penolong.

2.      Kuoni           : banyak bicara.

3.      Ruodi           : tidak berani mengambil resiko, keras kepala.

4.      Werni           : pendiam

5.      Baumgarten  : berani mengambil resiko, pantang menyerah,

6.      Seppi           : penakut

7.      Penunggang kuda pertama : kasar, tegas.

8.      Penunggang kuda kedua     : kasar, tegas.

 7.      Heranziehen von Kern- und Gelenkstellen, Dialogteilen und wichtigen Szensen (penarikan inti, bagian dialog dan babak penting)

Penarikan inti dari drama babak pertama ini adalah ketika Tell berani menyelamatkan Baumgarten dengan menyeberangi lautan yang sedang dalam keadaan buruk. Penarikan inti ini terdapat pada dialog di bagian akhir menjelang babak pertama selesai.

8.      Idee des Dramas (ide drama)

Ide yang mendasari drama ini adalah keinginan Friedrich Schiller untuk mengangkat kisah kepahlawanan dari Willhelm Tell.

PROSES-PROSES PEMENTASAN DRAMA „WILHELM TELL“ KARYA FRIEDRICH SCHILLER

A.     Tahap persiapan.

Dalam tahap persiapan ini beberapa langkah yang ditempuh, antara lain:

§      Langkah pertama adalah memilih cerita yang akan dipentaskan yang disesuaikan dengan maksud pementasan. Akhirnya kelompok memutuskan mengambil naskah drama yang berjudul „Wilhelm Tell“. Pemilihan naskah ini dikarenakan karya tersebut merupakan karangan  dari sastrawan jerman yang sudah terkenal Friedrich Schiller. Selain itu, naskah ini sudah terdapat dalam materi drama sebelumnya dan berbahasa jerman.

§   Langkah kedua adalah menentukan atau memilih siapa yang akan bertindak sebagai sutradara. Berdasarkan hasil dari musyawarah kelompok, maka diputuskan bahwa yang akan menjadi sutradara adalah Hafidz.

§      Langkah ketiga adalah sutradara memilih para pemeran dari masing-masing karakter yang terdapat dalam naskah drama. Dalam memilih pemeran ini sutradara meminta bantuan dari teman-teman sekelas yang sudah berpengalaman dalam sebuah pementasan, yakni Maimun, Mei, Esty, Zainul, Hafidz yang merupakan anggota dari teater Über dan Lasmi dari teater Hampa serta  beberapa teman yang bersedia membantu dalam pementasan ini seperti Dani dan Sophie. Selain itu sutradara juga menentukan pemain musik yakni Leo yang membantu dalam keindahan dari drama.

§     Langkah keempat adalah menentukan cara yang terbaik untuk mementaskan cerita tersebut. Cara yang dapat dilakukan antara lain:  (1) Mempelajari naskah dengan tujuan untuk mengenal tema, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Pada proses ini kelompok membantu para pemeran dengan menceritakan karakter yang akan mereka mainkan, plot dari cerita, dan juga pemain mempelajari sendiri naskah yang akan mereka mainkan. (2) Menganalisis setiap tokoh beserta wataknya serta hubungannya satu sama lain.

§      Langkah kelima adalah menentukan kostum, properti dan make up yang diperlukan untuk mendukung karakter setiap pemain. Adapun kostum dan properti yang digunakan oleh masing-masing pemain antara lain:

§      Kostum:

  • Baumgarten:       Rompi, Hem putih,  Celana panjang abu-abu,  Sepatu hitam,  Kaos kaki.
  • Werni: Celana pendek, Hem putih, Sepatu, topi.
  • Kuoni: Celana pendek, Hem putih, Suspender, Topi bulat, Sepatu dan kaos kaki.
  • Ruodi : Kaos besar rombeng, Celana pendek, Sarung, topi.
  • Tell: Hem putih, Jas hitam panjang, Celana panjang, Sepatu dan kaos kaki, Topi koboi.
  • Seppi: Hem putih, Rok panjang, Aksesoris kepala, seperti bando.
  • 1. und 2. Reiter: Baju Paskibra, Celana hitam, Sepatu, Scraf.

§      Properti

o       Tisu berdarah

o       Seruling

o       Tongkat panjang

o       Pedang

o       Pancing

§      Peralatan Make Up

o       Pembersih

o       Penyegar

o       Foundation

o       Bedak

o       Lipstik

o       Pensil alis

o       Maskara

      Tahap Latihan

Dalam tahap latihan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: (1) Suasana harus selalu gembira, (2) penuh semangat, (3) adanya kesungguhan dan kemauan untuk bekerja sama, (4) latihan itu haruslah intensif, kreatif, efektif. Oleh karena itu perlu diadakan rencana latihan yang ketat, bertahap dan realistis. Tahap-tahap yang terdapat dalam masa latihan ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

·        Latihan membaca.

Sebelum pembacaan dimulai, terlebih dahulu sutradara menerangkan secara singkat tema lakon, interpretasi, cara pementasan, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Latihan membaca dilakukan dengan membaca nyaring.

·        Latihan Blocking.

Dalam tahap ini ditentukan blocking setiap pelaku, yakni gerak dan pengelompokan pelaku. Setiap gerak, isyarat, mimik haruslah mempunyai arti dalam pengespreksian lakon tersebut.

·        Latihan Karya.

Dalam tahap ini setiap pelaku dituntut untuk menguasai dan menghafal teks diluar kepala, begitu juga dengan gerak lakunya. Pada latihan ini dialog dan gerak laku disinkronisasikan, interpretasi dikembangkan dan terjadi penambahan gerakan-gerakan kecil yang dapat membantu dalam penggambaran watak tokoh.

·        Latihan Pelicin.

Berlainan dengan latihan-latihan terdahulu di mana diadakan latihan adegan demi adegan, babak demi babak, maka dalam latihan pelicin ini seluruh lakon harus dapat dilatih secara penuh dan kontinyu tanpa suatu selingan atau intruksi. Setiap pelaku harus dapat merasakan serta menghayati suka dukanya, perjuangannya, kejayaannya, kegagalannya dan lain-lain.

·        Latihan Umum.

Latihan ini merupakan latihan yang terakhir sebelum pementasan. Pada saat ini pelaku dan karyawan pentas diberikan kesempatan terakhir untuk mengecek serta menyempurnakan tugas masing-masing. Pada saat ini tugas seorang sutradara telah berakhir. Tanggung jawab pementasan berada pada tangan kru. Pimpinan seluruhnya berada di tangan pemimpin panggung dan asisten sutradara. Pada saat inilah kerja sama yang baik benar-benar diperlukan. Jika ada sedikit kesalahan maka akan mengganggu keseluruhan pementasan.

Keseluruhan latihan pada pementasan ini yakni selama tiga hari. Pada hari pertama sutradara dan pemain hanya melakukan proses Reading. Proses ini bertujuan untuk melatih pendalaman karakter dari masing-masing tokoh, intonasi,  vokal, dan lain-lain. Selain itu juga membantu para pemain untuk menghafalkan dialog yang harus mereka ucapkan. Namun karena kurang matangnya persiapan pementesan akhirnya untuk membantu pemain dalam mengucapkan dialog pemain akan dibantu dengan slide yang berisi dialog. Selanjutnya setelah proses ini pemain berlatih langsung memerankan setiap dialog yang terdapat dalam naskah. Mereka berlatih kapan saat mereka harus mengucapkan dialog mereka dan juga berlatih tentang blocking. Selama proses latihan ini kendala yang ditemukan adalah apabila salah satu pemain tidak bisa datang dalam latihan  dikarenakan ada kepentingan pribadi. Sehingga proses latihan ini juga tida bisa berjalan secara maksimal.

Malam Perdana

Malam perdana merupakan klimaks dari jerih payah aktor, sutradara dan kru pendukung lainnya. Pada malam ini naskah drama yang telah dipelajari dan dilatih akan dipentaskan. Semua kru, pemain dan sutradara mengerjakan tugas masing-masing, seperti team musik menyiapkan semua peralatan musik dan mengatur tempat dia memainkan musik. Para pemain memakai kostum dan berdandan sesuai dengan karakter masing-masing. Sutradara mengatur jalannya pementasan, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

INTERPRETASI DRAMA „WILHELM TELL“

KARYA FRIEDRICH SCHILLER

1.      Author (pengarang)

 

Dalam drama berjudul Wilhelm Tell ini ditulis oleh Friedrich Schiller.  Dia lahir 10 November1759 , dan meninggal pada usia 46 tahun tepatnya pada tanggal 9 Mei1805. Schiller  adalah seorang penyair, filsuf, sejarawan, dan dramatisJerman dan karya-karyanya berpengaruh besar bagi kesusastraan Jerman.

 

2.      Titel und Untertitel des Dramas (judul dan sub judul drama)

 

Judul drama Wilhelm Tell ini adalah untuk menggambarkan perjuangan seorang pahlawan legendaris Swiss yang bernama Wilhelm Tell.

 

3.      Gattungsbezeichnung (penanda jenis)

 

Penanda jenis karya ini disebut drama karena terdapat petunjuk lakuan dalam naskah dialog, seperti, Baummggarten: (unfasst seine Knie)= memegang lututnya dengan erat.

 

4.      Inhalt (Handlungsablauf) des Dramas (isi/ jalannya peristiwa drama)

 

Pada drama Wilhelm Tell babak pertama ini bersetting di tepi laut yang dilatar belakangi oleh hamparan tebing. Cerita bermula dari 4 orang penduduk dari Uri yaitu wilhelm Tell, Ruodi seorang nelayan, Werni seorang pemburu dan Kuoni seorang penggembala. Ketika mereka sedang memulai aktifitas sehari-hari, datanglah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, yaitu Konrad Baumgarten. Dia ingin menyelamatkan diri karena sedang dikejar-kejar musuh oleh pasukan berkuda. Dia telah membunuh kaisar Burgvogt penguasa daerah Roßberg yang telah mencemarkan aib istrinya. Sempat terjadi perdebatan ketika Baumgarten meminta pertolongan untuk menyeberang. Karena cuaca buruk sehingga Ruodi yang bertugas mengemudikan perahu tidak berani dan tidak mau mengantarkannya. Namun Baumgarten harus segera diselamatkan. Kemudian datanglah Tell yang bisa mengemudikan perahu dan dia bersedia menolong Baumgarten. Akhirnya mereka berdua pergi. Tepat pada saat itu, datanglah dua pasukan berkuda. Mereka marah karena Baumgarten bisa meloloskan diri. Mereka merobohkan dan membakar gubuk Kuoni.

 

5.      Aufbau des Dramas/ Strukturgesetz (struktur drama)

 

Wujud fisik drama naskah ini adalah dialog atau ragam tutur. Konflik drama terbangun oleh pertentangan antara tokoh-tokohnya. Konflik dimulai dari awal cerita yakni ketika Baumgarten datang dengan tergesa-gesa meminta pertolongan dari kejaran pasukan berkuda kemudian Baumgerten menceritakan apa yang dialami. Oleh karna itu dia meminta bantuan untuk diantar menyebrang laut untuk menyelamatkan diri. Klimaks atau titik puncak cerita terjadi ketika semua tokoh berdebat untuk menentukan siapa yang akan menyelamatkan Baumgarten. Resolusi atau penyelesaiannya ketika Tell datang dan bersedia menolong Baumgarten menyebrangi lautan. 

Setting atau tempat kejadian peristiwa dilukiskan secara jelas, yakni setting tempat dalam babak pertama ini terjadi didaerah pesisir pantai. Sedangkan setting waktu terjadi ketika waktu akan senja.

 

6.      Personen der Handlung (tokoh dalam alur)

 

Penggambaran watak tokoh dalam drama ini tidak digambarkan secara jelas atau tersurat. Hal ini bertujuan agar pembaca atau penonton dapat mengembangkan sendiri watak dari tokoh berdasarkan imajinasinya. Pada babak pertama drama ini masih belum bisa diketahui siapa yang menjadi tokoh antagonis, protagonis, dan tritagonis.

 

Berikut ini adalah tokoh-tokoh dan beberapa watak dalam drama ini yang kami analisis,  antara lain:

1.      Wilhelm Tell : pemberani, tegas, penolong.

2.      Kuoni           : banyak bicara.

3.      Ruodi           : tidak berani mengambil resiko, keras kepala.

4.      Werni           : pendiam

5.      Baumgarten  : berani mengambil resiko, pantang menyerah,

6.      Seppi           : penakut

7.      Penunggang kuda pertama : kasar, tegas.

8.      Penunggang kuda kedua     : kasar, tegas.

 

7.      Heranziehen von Kern- und Gelenkstellen, Dialogteilen und wichtigen Szensen (penarikan inti, bagian dialog dan babak penting)

 

Penarikan inti dari drama babak pertama ini adalah ketika Tell berani menyelamatkan Baumgarten dengan menyeberangi lautan yang sedang dalam keadaan buruk. Penarikan inti ini terdapat pada dialog di bagian akhir menjelang babak pertama selesai.

 

8.      Idee des Dramas (ide drama)

 

Ide yang mendasari drama ini adalah keinginan Friedrich Schiller untuk mengangkat kisah kepahlawanan dari Willhelm Tell.

 

 

 

 

 

PROSES-PROSES PEMENTASAN DRAMA „WILHELM TELL

KARYA FRIEDRICH SCHILLER

 

A.     Tahap persiapan.

Dalam tahap persiapan ini beberapa langkah yang ditempuh, antara lain:

§      Langkah pertama adalah memilih cerita yang akan dipentaskan yang disesuaikan dengan maksud pementasan. Akhirnya kelompok memutuskan mengambil naskah drama yang berjudul „Wilhelm Tell“. Pemilihan naskah ini dikarenakan karya tersebut merupakan karangan  dari sastrawan jerman yang sudah terkenal Friedrich Schiller. Selain itu, naskah ini sudah terdapat dalam materi drama sebelumnya dan berbahasa jerman.

§      Langkah kedua adalah menentukan atau memilih siapa yang akan bertindak sebagai sutradara. Berdasarkan hasil dari musyawarah kelompok, maka diputuskan bahwa yang akan menjadi sutradara adalah Hafidz.

§      Langkah ketiga adalah sutradara memilih para pemeran dari masing-masing karakter yang terdapat dalam naskah drama. Dalam memilih pemeran ini sutradara meminta bantuan dari teman-teman sekelas yang sudah berpengalaman dalam sebuah pementasan, yakni Maimun, Mei, Esty, Zainul, Hafidz yang merupakan anggota dari teater Über dan Lasmi dari teater Hampa serta  beberapa teman yang bersedia membantu dalam pementasan ini seperti Dani dan Sophie. Selain itu sutradara juga menentukan pemain musik yakni Leo yang membantu dalam keindahan dari drama.

§      Langkah keempat adalah menentukan cara yang terbaik untuk mementaskan cerita tersebut. Cara yang dapat dilakukan antara lain:  (1) Mempelajari naskah dengan tujuan untuk mengenal tema, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Pada proses ini kelompok membantu para pemeran dengan menceritakan karakter yang akan mereka mainkan, plot dari cerita, dan juga pemain mempelajari sendiri naskah yang akan mereka mainkan. (2) Menganalisis setiap tokoh beserta wataknya serta hubungannya satu sama lain.

§      Langkah kelima adalah menentukan kostum, properti dan make up yang diperlukan untuk mendukung karakter setiap pemain. Adapun kostum dan properti yang digunakan oleh masing-masing pemain antara lain:

 

§      Kostum


ü      Baumgarten

o       Rompi

o       Hem putih

o       Celana panjang abu-abu

o       Sepatu hitam

o       Kaos kaki

ü      Werni

o       Celana pendek

o       Hem putih

o       Sepatu

o       topi

ü      Kuoni

o       Celana pendek

o       Hem putih

o       Suspender

o       Topi bulat

o       Sepatu dan kaos kaki

ü      Ruodi

o       Kaos besar rombeng

o       Celana pendek

o       Sarung

o       topi

ü      Tell

o       Hem putih

o       Jas hitam panjang

o       Celana panjang

o       Sepatu dan kaos kaki

o       Topi koboi

ü      Seppi

o       Hem putih

o       Rok panjang

o       Aksesoris kepala, seperti bando

ü      1. und 2. Reiter

o       Baju Paskibra

o       Celana hitam

o       Sepatu

o       Scraf


 

 

 

 

 

 

 

§      Properti

o       Tisu berdarah

o       Seruling

o       Tongkat panjang

o       Pedang

o       Pancing

 

 

§      Peralata Make Up

o       Pembersih

o       Penyegar

o       Foundation

o       Bedak

o       Lipstik

o       Pensil alis

o       Maskara

 

 

B.     Tahap Latihan

Dalam tahap latihan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: (1) Suasana harus selalu gembira, (2) penuh semangat, (3) adanya kesungguhan dan kemauan untuk bekerja sama, (4) latihan itu haruslah intensif, kreatif, efektif. Oleh karena itu perlu diadakan rencana latihan yang ketat, bertahap dan realistis. Tahap-tahap yang terdapat dalam masa latihan ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

 

·        Latihan membaca.

Sebelum pembacaan dimulai, terlebih dahulu sutradara menerangkan secara singkat tema lakon, interpretasi, cara pementasan, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Latihan membaca dilakukan dengan membaca nyaring.

·        Latihan Blocking.

Dalam tahap ini ditentukan blocking setiap pelaku, yakni gerak dan pengelompokan pelaku. Setiap gerak, isyarat, mimik haruslah mempunyai arti dalam pengespreksian lakon tersebut.

·        Latihan Karya.

Dalam tahap ini setiap pelaku dituntut untuk menguasai dan menghafal teks diluar kepala, begitu juga dengan gerak lakunya. Pada latihan ini dialog dan gerak laku disinkronisasikan, interpretasi dikembangkan dan terjadi penambahan gerakan-gerakan kecil yang dapat membantu dalam penggambaran watak tokoh.

·        Latihan Pelicin.

Berlainan dengan latihan-latihan terdahulu di mana diadakan latihan adegan demi adegan, babak demi babak, maka dalam latihan pelicin ini seluruh lakon harus dapat dilatih secara penuh dan kontinyu tanpa suatu selingan atau intruksi. Setiap pelaku harus dapat merasakan serta menghayati suka dukanya, perjuangannya, kejayaannya, kegagalannya dan lain-lain.

·        Latihan Umum.

Latihan ini merupakan latihan yang terakhir sebelum pementasan. Pada saat ini pelaku dan karyawan pentas diberikan kesempatan terakhir untuk mengecek serta menyempurnakan tugas masing-masing. Pada saat ini tugas seorang sutradara telah berakhir. Tanggung jawab pementasan berada pada tangan kru. Pimpinan seluruhnya berada di tangan pemimpin panggung dan asisten sutradara. Pada saat inilah kerja sama yang baik benar-benar diperlukan. Jika ada sedikit kesalahan maka akan mengganggu keseluruhan pementasan.

Keseluruhan latihan pada pementasan ini yakni selama tiga hari. Pada hari pertama sutradara dan pemain hanya melakukan proses Reading. Proses ini bertujuan untuk melatih pendalaman karakter dari masing-masing tokoh, intonasi,  vokal, dan lain-lain. Selain itu juga membantu para pemain untuk menghafalkan dialog yang harus mereka ucapkan. Namun karena kurang matangnya persiapan pementesan akhirnya untuk membantu pemain dalam mengucapkan dialog pemain akan dibantu dengan slide yang berisi dialog. Selanjutnya setelah proses ini pemain berlatih langsung memerankan setiap dialog yang terdapat dalam naskah. Mereka berlatih kapan saat mereka harus mengucapkan dialog mereka dan juga berlatih tentang blocking. Selama proses latihan ini kendala yang ditemukan adalah apabila salah satu pemain tidak bisa datang dalam latihan  dikarenakan ada kepentingan pribadi. Sehingga proses latihan ini juga tida bisa berjalan secara maksimal.

 

C.     Malam Perdana

Malam perdana merupakan klimaks dari jerih payah aktor, sutradara dan kru pendukung lainnya. Pada malam ini naskah drama yang telah dipelajari dan dilatih akan dipentaskan. Semua kru, pemain dan sutradara mengerjakan tugas masing-masing, seperti team musik menyiapkan semua peralatan musik dan mengatur tempat dia memainkan musik. Para pemain memakai kostum dan berdandan sesuai dengan karakter masing-masing. Sutradara mengatur jalannya pementasan, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s