Märchen

A.     Pengertian

Das Märchen gehört zur Literaturform (=Gattung) EPIK.

Märchen berasal dari bahasa Mittelhochdeutsch, maere yang berarti kabar atau berita.

Dongeng ialah cerita yang lahir dari khayalan pengarang. Jadi dongeng itu cerita yang tidak benar-benar terjadi. (Ibrahim: 1987: 26)

Märchen are quite often tales where good was rewarded and evil punished, wishes, were grandted, and witches and talking animals interaced with human beings. The stories were originally passed on from generation to generation in the oral story-telling traditionMärchen adalah dongeng kebanyakan, dimana yang baik dihargai dan yang jahat dihukum, harapan-harapan dijamin, serta penyihir dan hewan yang bisa berbicara berinteraksi dengan manusia. Cerita yang awalnya disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan–. (Moeller: 1991: 108)

Das Märchen ist eine kürzere Prosaerzählung, die wunderbare Begebenheiten zum Gegenstand hatMärchen adalah sebuah prosa pendek, yang memiliki peristiwa dan tema yang ajaib–. (www.uni-due.de: diakses tanggal 1 Maret 2011)

Pada awalnya, orang- orang menceritakan Märchen dari mulut ke mulut karena tidak  ada naskah/ tulisan tentang Märchen. Pada tahun 1812, sebuah buku kumpulan Märchen yang berjudul Kinder- und Hausmärchen diterbitkan. Dongeng-dongeng ini sangat populer, tidak hanya di Jerman tapi juga terkenal di seluruh Eropa dan Amerika. Jakob (1785-1863) dan Wilhelm (1786-1859) Grimm bersaudara atau yang lebih dikenal dengan Brüder Grimms, telah berhasil mengumpulkan banyak cerita dalam satu masa, yang digolongkan oleh sebuah daya tarik yang luar biasa dalam cerita rakyat Jerman.

Apapun yang melatarbelakangi cerita-cerita tersebut, daya tariknya mampu memesona anak-anak di seluruh dunia hingga saat ini. Anak-anak diperkenalkan dengan cerita kepahlawanan, kemalangan akibat penindasan, dan pertolongan dan kemenangan ketika kebaikan yang akhirnya menang. Tapi Märchen tidak hanya untuk anak-anak. Saat ini perkumpulan Märchen, yang didirikan pada tahun 1956 di Jerman, sudah memiliki lebih dari 600 anggota. Institusi pendidikan juga mulai menerbitkan buku dalam bentuk Märchen, dan menggunakan Märchen sebagai sumber informasi tentang bagaimana orang-orang terdahulu menjalani hidupnya. Bahkan mereka juga menggunakan dongeng sebagai terapi, untuk memberi hiburan kepada pasien depresi. (Moeller: 1991: 122)

 

B.     Jenis-jenis Märchen

Dari segi pengarang, Märchen ini dibedakan menjadi dua jenis, yakni:

  1. Volksmärchen, Märchen yang anonim. Contoh: Timun Emas, Pak Tani dan Kancil
  2. Kunstmärchen, Märchen yang ditulis/ dibuat oleh seseorang. Kunstmärchen  ini lebih kuat bahasa sastranya dari pada Volksmärchen. Contoh: Katzenliebe

Dari segi jenis, Märchen dibedakan atas:

  1. Dongeng binatang (Fabel). Contoh: Der Wolf und Das Schaf, Die Sechs Schwäne.
  2. Dongeng tentang suatu kejadian (Legende). Contoh: Der Fels im See.
  3. Dongeng tentang orang-orang pandir atau malang. Contoh: Till Eulenspiegel.
  4. Dongeng yang mengandung sedikit unsur-unsur sejarah (Sage). Contoh: Die Bremer Stadtmusikanten.
  5. Dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan (Mythe). Contoh: Syair Thrym (tentang dewa Thor dan palunya)

Jenis narasi/ cerita dari Sage, Legende, Myth dan Fabel juga mengandung unsur keajaiban dan unsur supranaturalisme. Dalam kasus tertentu, perbedaan pada Märchen tidak selalu mudah (untuk dibedakan), namun dapat didasarkan pada kriteria tertentu. Dalam Sage, alur tidak terlalu berperan terhadap sesuatu yang bersifat misteri, seperti tokoh hantu, raksasa, kurcaci dan penyihir. Selama keajaiban di dalam Märchen terbentuk seperti di luar atau di dalam kenyataan yang wajar, maka suatu cerita memiliki sebuah kedudukan yang menonjol di dalam Sage –ketidaklaziman itu nampak seperti kehidupan sehari-hari yang benar-benar terpisah dan menimbulkan sensasi/keadaan tertentu dari para tokoh. Selain itu, sebuah märchen terletak di dalam konteks yang tidak jelas (unbestimmten Konteks), ketika Märchen disajikan sebagai Sage yang terasa nyata dengan tempat dan waktunya.

Legende sangat serupa dengan Sage, namun supranaturalisme dalam Legende yang dijelaskan oleh agama: Legenden erzählen vom Leben Heiliger und göttlichen Wundern –Legenda-legenda menceritakan kehidupan, kitab suci dan mukjizat Tuhan–. Namun sebaliknya di dalam Myth, para dewa berperan di dalam peran mereka sendiri. Fabel benar-benar dibentuk oleh cerita, yang ditokohkan oleh binatang, tumbuhan, dan benda-benda yang bisa berbicara, yang mengandung unsur mendidik dan memiliki arti praktis yang jelas. (www.suite101.de: diakses tanggal 1 Maret 2011)

C.     Karakteristik Märchen

Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari Märchen:

  • Märchen termasuk dalam prosa yang bersifat statis
  • Märchen berisi sesuatu yang tidak nyata (khayalan) dan indah (istana sentris)
  • Memakai struktur kalimat lampau (Präteritum)
  • Märchen dibuka dan ditutup dengan formulasi/ bentuk berulang, contohnya diawali dengan kalimat „Es war einmal…“ dan diakhiri dengan „Und wenn sie nicht gestorben sind, dann leben sie noch heute“
  • Tokoh utama yang tidak biasa seperti hewan dan tumbuhan yang bisa berbicara. Selain itu juga ada tokoh fantasi seperti penyihir, orang kerdil, peri yang bersifat baik maupun jahat
  • Bersifat menghibur tetapi juga mendidik
  • Berisi pesan moral
  • Alur yang dipakai biasanya adalah alur maju dan ending tertutup
  • Tidak berseri
  • Berakhir bahagia (happy ending)

Tidak setiap Märchen memiliki ciri khas seperti yang telah disebutkan di atas, sehingga sebuah teks disebut Märchen, akan lebih baik jika memenuhi beberapa ketentuan di atas.

D.      Biografi die Brüder Grimms

Die Brüder Grimm atau dalam bahasa Indonesia Grimm Bersaudara, merupakan kakak-beradik Jakob dan Wilhelm Carl Grimm. Mereka adalah akademisi Jerman yang terkenal karena mempublikasikan kumpulan cerita rakyat dan dongeng, dan untuk karya mereka di bidang bahasa (linguistik). Mereka sangat terkenal karena menceritakan ulang kisah-kisah dan dongeng dari daratan Eropa seperti Snow White, Rapunzel, Cinderella, Hansel dan Gretel, dan banyak kisah-kisah lainnya.

Kedua-duanya lahir di Hanau, salah satu kota di Jerman. Keduanya mengambil kuliah hukum di University of Marburg. Pada tahun 1808, Jacob diberi gelar ‘Court Librarian to the King of Westphalia’ dan tahun 1816 bekerja di perpustakaan di Kassel (salah satu kota di Jerman), dimana Wilhelm juga bekerja. Mereka tetap tinggal di sana hingga 1830, sampai mereka mendapatkan posisi yang lebih baik di ‘University of Göttingen’. Grimm bersaudara mempublikasikan volume pertama dari cerita dongeng, Tales of Chilren and the Home (Cerita tentang anak dan rumah), pada tahun 1812. Mereka mendapatkan cerita-cerita tersebut dari para petani dan penduduk kampung.

Dalam kerjasama mereka berdua, Jacob melakukan lebih banyak riset dan penelitian sedangkan Wilhelm yang lebih lemah, menyusun kata-kata dan menyajikan cerita tersebut dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti oleh anak-anak. Mereka juga tertarik pada cerita rakyak dan literatur tua, dan antara tahun 1816 dan 1818 mereka mempublikasikan 2 volume dari legenda rakyat jerman dan juga sebuah volume dari literatur sejarah. Pada akhir tahun-tahun kehidupan mereka digunakan dengan menulis kamus bahasa Jerman yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1854 dan sampai sekarang masih dibawa oleh generasi berikutnya.

E.       Märchenanalysieren

RAPUNZEL

Es war einmal ein Mann und eine Frau, die wünschten sich schon lange vergeblich ein Kind, endlich machte sich die Frau Hoffnung, der liebe Gott werde ihren Wunsch erfüllen. Die Leute hatten in ihrem Hinterhaus ein kleines Fenster, daraus konnte man in einen prächtigen Garten sehen, der voll der schönsten Blummen und Kräuter stand; er war aber von einer hohen Mauer umgeben, und nieman wagte hineinzugehen, weil er einer Zauberin gehörte, die große Macht hatte und von aller Welt gefürchtet ward. Eines Tages stand die Frau an diesem Fenster und sah in den Garten hinab, da erblickte sie ein Beet, das mit den schönsten Rapunzeln bepflanzt war; und sie sahen so frisch und grün aus, dass sie lüstern ward und das größte Verlangen empfand, von den Rapunzeln zu essen. Das Verlangen nahm jeden Tag zu, so fiel sie ganz ab, sah blass und elend aus. Da erschrak der Mann und fragte: »Was fehlt dir, liebe Frau?« – » Ach«, antwortete sie, »Wenn ich keine Rapunzeln aus dem Garten hinter unseren Hause zu essen kriege, so sterbe ich.«

……………………………………………………………………….

Der Königsohn stieg hinauf, aber er fand oben nicht seine liebste Rapunzel, sondern die Zauberin, die ihn mit bösen und giftigen Blicken ansah.  » Aha«, rief sie höhnisch, »du willst die Frau Liebste holen, aber der schöne Vogel sitzt nicht mehr in Nest und singt nicht mehr, die Katze hat ihn geholt und wird dir auch noch die Augen auskratzen. Für dich ist Rapunzel verloren, du wirst sie nie wieder erblicken.«  Der Königsohn geriet außer vor Schmerzen, und in der Verzweiflung sprangt er den Turm herab; das Leben brachte er davon, aber die Dornen, in die er fiel, zerstachen ihm die Augen. Da irrte er blind im Walde umher, aß nicht als Wurzeln und Beeren und tat nichts als jammern und weinen über den Verlusst seiner liebsten Frau. So wanderte er einige Jahre ihm Elend umher und geriet endlich in die Wüstenei, wo Rapunzel mit den Zwillingen, die sie geboren hatte, einem Knaben und Mädchen, kümmerlich lebte. Er vernahm eine Stimme, und sie deuchte ihm so bekannt: Da ging er darauf zu, und wie er herankam, erkannte ihn Rapunzel und fiel ihm um den Hals und weinte. Zwei von ihren Trännen aber benetzten seine Augen, da wurden sie wieder klar, und er konnte damit sehenwie sonst. Er führte sie in sein Reich, wo er mit Freude empfangen ward, und sie lebten noch lange glücklich und vergnügt.

Dari Märchen diatas dapat dianalisis sebagai berikut:

  1. Märchen ini bertemakan tentang ….
  2. Tokoh yang jahat adalah
  3. Tokoh yang baik adala
  4. Die Figuren und die Eigenschaften:

Figuren und Handlungsorte

Eigenschaften

Mächtige/ Herschen
Das Volk/ einfache Menschen
Böse
Gute/ übermenschliche Gestalten
Tiere
Orte der Handlung
  1. Memakai struktur kalimat lampau (Präteritum)
  2. Diawali dengan „Es war eimal……“ dan diakhiri dengan „…sie lebten noch lange glücklich und vergnügt“
  3. Terdapat penyihir
  4. Istana sentris
  5. Berakhir bahagia
  6. Berisi pesan moral, yaitu jangan mudah menyerah dan putus asa.
  7. Ending tertutup
  8. Tidak berseri

DAFTAR PUSTAKA

Grimm, Jakob und Wilhelm. 2003. Grimms Märchen. Augsburg: Weltbild Buchverlag.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1987. Kesusastraan Indonesia. Surabaya: Usaha Nasional.

Moeller, Jack. 1991. Kaleidoskop Kultur, Literatur und Grammatik. Boston: Houghton Mifflin Company.

http://oregonstate.edu/instruct/ger341/marchen.htm (diakses tanggal 2 Maret 2011)

http://www.uni-due.de/einladung/Vorlesungen/epik/maerchen.htm (diakses tanggal 1 Maret 2011)

http://www.suite101.de/content/das-maerchen-als-literarische-gattung-a63413 (diakses tanggal 1 Maret 2011)

Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s