Inhalte und Begriffe der Epik

WAS IST EPIK

Der Begriff “Epik” ist abgeleitet vom griechischen “Epos”.

„Epos“ kann mit „Wort“, „Vers“ oder als „das Gesagte“ übersetzt werden.

Als erzählende (narrative) Dichtung ist neben Lyrik und Dramatik eine der wichtigsten Literaturgattungen.

Ihr Kern ist eine Ursituation zwischenmenschliche Kommunikation, denn seit jeher  vermittelt das Erzählen zwischen dem Ereignis und dem Zuhörer.

Die epische Dichtung ist dadurch gekennzeichnet, dass sie in Prosa oder in Versform abgeschlossene Ereignisse und Begebenheiten der fantastischen, traumhaften „inneren Welt“ und der realen „äuβeren Welt“ vom Standpunkt eines Erzählers wiedergibt.

Die Erzählzeit ist häufig das sogenannte „epische Präteritum“, da Vergangenes erzählt wird.

Das Erzählen kann verschiedene Formen annehmen:

Groβformen, z.B. Epos, Roman. In den Groβformen sind Schilderungen bis ins kleine Details möglich. Mehrere Handlungen, die aus einer Vielzahl nebeneinander laufender und ineinander verwobener Episoden, einer umfangreichen Zusammenstellung an Figuren und ausführlichen Beschreibungen bestehen, werden in der „epischen Breite“ zu einer Einheit zusammengefügt.

Die Erzählweise in den Kurzformen (z.B. Novelle, Kurzgeschichte, Parabel, Fabel, Märchen, Anekdote) und einfache Formen (z.B. Witz) kann eher als informierendes Berichten bezeichnet werden. Durch die knappere Form wird der Leser nicht so sehr in das Geschehen  hineingezogen wie in den Groβformen.

Der Autor hat vielfältige Möglichkeiten bei der Gestaltung seines Textes.

Epische Werke sind gekennzeichnet durch die Erzählhaltung und Erzählperspektive, die der Erzähler einnimmt.

Der Erzähler kann die Ereignisse zurückgenommen und überschauend schildern oder selbst am Geschehen teilnehmen.

Auch die Zeitgestaltung des Erzählers ist von wesentlicher Bedeutung. Er kann die Zeit beschleunigen, in der Zeit verharren oder sie sogar zurückwenden. Ihm sind keinerlei Grenzen gesetzt.

 

  • LEITFRAGEN ZUR INTERPRETATION NARRATIVER TEXTE

Es ist nicht immer einfach, narrative Texte zu verstehen. Oft kann man nicht auf den ersten Blick erkennen, was sich hinter einer bestimmten Erzählung verbirgt.

Die folgenden Leitfragen sollen uns helfen, einem epischen Text näher zu kommen.

Es müssen nicht alle Fragen auf jeden Text zutreffen.

Wir sollen zuerst die Fragen auswählen, die wir am besten beantworten können. Vielleicht fallen uns auch noch weitere Fragen ein.

Text und Form:

  • Wie ist der Text aufgebaut (Textumfang, Titel, Gliederung)?
  • Gibt es Stellen, bei denen Sie Verständnisprobleme haben? Wenn ja, welche?
  • Weckt der Text  einen bestimmten Eindruck bei Ihnen? Spricht er Ihr Gefühl oder den Verstand an?
  • Gibt es besondere Satzkonstruktion oder andere stilistische und sprachliche Formen, die Ihnen auffallen?
  • ______________________________
  • ______________________________

Erzähler:

  • Aus welcher Sicht wird erzählt (auktorial, personal, neutral)?
  • In welcher Form wird erzählt (Ich-Erzähler, Er-Erzähler)?
  • Gibt es Innen- und Auβensichten?
  • Wie wird erzählt (distanziert, teilnehmend, begeistert usw.)?
  • ______________________________
  • ______________________________

Handlung:

  • Worum geht es?
  • Welche Gesamtaussage ist enthalten?
  • Welcher Zusammenhang besteht zwischen Titel, Inhalt und der Gesamtaussage?
  • Welche Figuren treten auf?
  • Wie sind sie charakterisiert?
  • Wo findet die Handlung statt?
  • Wann findet die Handlung statt?
  • Gibt es Haupt- und Nebenhandlungen?
  • Unterstützt die äuβere Form den Inhalt?
  • ____________________________
  • ____________________________
  • FIKTION ODER REALITÄT?

Texte lassen sich in fiktionale und in nicht-fiktionale Textarten einteilen.

Fiktionale Texte sind Werken, die keinen direkten Bezug auf wahre Begebenheiten, also auf die Realität haben.

Epische Texte gehören zu den fiktionalen Texten. Sie sind im Kopf eines Autors entstanden, entstammen also seiner Vorstellung und Fantasie – dem Reich der Fiktion. Daher kann nicht beurteilt werden, ob sie wahr oder falsch sind.

Sie konstruieren sich sozusagen ihre eigene Welt neben der Realität und sind weder an eine bestimmte Zeit noch an einen bestimmten Ort gebunden. Auch logische Zusammenhänge oder natürliche Gesetzmäβigkeiten müssen in dieser Welt nicht unbedingt gelten. Es verwunder, z.B niemanden, dass Schneewittchen mit sieben Zwergen zusammenlebt. Im Märchen ist alles möglich. So besitzt jedes literarische Werk seine eigene Wahrheit.

Nicht-fiktionale Texte beziehen sich immer direkt auf einen realen Sachverhalt oder Gegenstand.

Darunter fallen alle Gebrauchs- und Sachtexte. Sie werden zu einem bestimmten Zweck geschrieben, um z.B. zu erklären, wie etwas funktioniert (Gebrauchsanweisung) oder was passiert ist (Zeitungsmeldung).

Die in einem nicht-fiktionalenTexte enthaltenen Aussagen lassen sich auf die Richtigkeit hin überprüfen.

Ein erlogener Sach- oder Gebrauchstext oder ein Text mit falschen Aussagen ist also keineswegs fiktional, sondern schlicht  falsch.

 

  •  HANDLUNG

Mit der Handlung ist das erzählte Geschehen gemeint, also das, was passiert. Das Geschehen der umfangreicheren epischen Formen kann meist in eine Haupthandlung und in eine oder mehrere Nebenhandlungen eingeteilt werden. Es gibt also ein wesentliches Geschehen, das von anderen kleineren Ereignissen begleitet sein kann.

Wenn das Geschehen in einem narrativen Text von einem allumfassenden Geschehen umschlossen wird, spricht man von der Binnenhandlung, die von einer Rahmenhandlung eingeschlossen ist.

Sie können Binnenhandlungen, die von einer Rahmenhandlung eingeschlossen ist, in der Erzählungen  aus  „Tausend und eine Nacht“ finden.

Hikayat Seribu Satu Malam (bahasa Arab: كتاب ألف ليلة و ليلة Kitāb ‘Alf Layla wa-Layla, bahasa Parsi: هزار و یک شب Hazâr-o Yak Šab) ialah sebuah karya kesusasteraan Timur Tengah Zaman Pertengahan yang berisi berbagai hikayat yang diceritakan oleh Scheherazad (bahasa Parsi: Shahrastini) kepada suaminya. Suaminya pun tidak jadi membunuhnya dan membiarkan dia hidup untuk satu hari lagi. Karya “Seribu Satu Malam” terdiri dari koleksi hikayat yang dipercaya berasal dari hikayat-hikayat Parsi, Arab dan India.

Kisah ini bermula dari seorang raja. Ia mempunyai permaisuri yang sangat cantik. Entah kenapa, sang permaisuri ternyata selingkuh dengan seorang prajurit. Ketika mengetahui hal ini, sang raja sangat murka. Ia menghukum mati permaisurinya. Demikian juga dengan prajuritnya. Semenjak itu, sang raja sangat mendendam pada setiap wanita. Tetapi meski begitu, ia ingin terus menikah. Kejamnya sang raja, sehari setelah menikah, ia akan menghukum mati permaisuri barunya itu. Tak ada yang bisa menghentikan perilaku raja ini. Meski para pejabat tidak setuju, mereka hanya bisa diam. Ketakutan. Begitu juga dengan rakyatnya. Mereka hanya bisa pasrah dengan kekejaman sang raja. Apalagi bagi mereka yang mempunyai anak perempuan. Setiap hari mereka was-was. Mereka takut sang raja akan memilih putri mereka. Mereka hanya bisa merasakan kebahagiaan sejenak. Yaitu ketika pesta pernikahan. Tetapi setelah itu mereka harus menyiapkan kain kafan. Putri mereka dipastikan.. .mati. Beratus-ratus perempuan telah menjadi korban. Tetapi dendam sang raja belum juga padam. Ia terus saja mencari perempuan-perempuan cantik, menikahinya dan membunuhnya. Suatu hari, sang raja bertemu dengan seorang perempuan cantik. Ternyata perempuan itu adalah putri penasihat kerajaan. Sang raja pun langsung melamar putri cantik tersebut pada penasihatnya. Sang penasihat bingung menghadapinya. Ia tahu nasib yang menanti putri kesayangannya. Setelah pernikahan, ia akan kehilangan putrinya. Untuk selamanya. Tetapi untuk menolak permintaan sang raja pun berat. Dan akibatnya sama saja. Kematian dirinya sendiri dan putrinya juga. Di tengah kebingungan tersebut, sang putri menghadap ayahnya. “Ayah, terima saja lamaran sang raja. Aku tidak apa-apa. Aku yakin bisa merubah tabiat sang raja.” Begitu kata putrinya. Dengan berat hati, akhirnya penasihat kerajaan menerima lamaran sang raja. Pesta pernikahan pun digelar. Kali ini lebih megah dan meriah dibanding sebelumnya. Karena yang menikah adalah seorang raja dan seorang putri penasihat kerajaan. Akhirnya pesta pun usai. Malam pengantin pun menjelang. Pasangan berbahagia itu pun melewatkan malam pertamanya dengan penuh kebahagiaan. Pada saat sang raja beranjak ke peraduan, permaisurinya bertanya: “Wahai kekasihku, izinkanlah aku menceritakan sebuah kisah yang menakjubkan.” Mendengar permintaan permaisurinya sang raja tersenyum senang. Ia memang sangat senang mendengar kisah-kisah hebat. “Silahkan permaisuriku sayang,” katanya. Sang permaisuri pun memulai ceritanya. Begitu serunya kisah yang ia ceritakan, sampai sang raja tidak terserang kantuk sejenak pun. Tetapi ketika kisah itu sedang ada di puncak ketegangannya, sang permaisuri menghentikan ceritanya. Ia berjanji akan melanjutkan ceritanya besok malam. Sang raja pun setuju. Mereka pun tertidur sejenak. Sepanjang hari sang raja terus penasaran. Ia ingin cepat-cepat malam. Ketika malam tiba, sang raja sudah siap di kamarnya. Ia benar-benar penasaran akan lanjutan kisah dari permaisurinya. Sang permaisuri pun melanjutkan ceritanya. Ketika satu kisah sudah berakhir ia lanjutkan dengan kisah berikutnya yang lebih seru lagi. Tapi seperti biasa, ketika satu kisah sedang seru-serunya, ia hentikan ceritanya. Ia pun berjanji akan melanjutkan kisah itu besok malamnya. Begitu terus setiap malam. Tidak terasa, pasangan itu tetap bersama selama dua tahun. Kisah yang diceritakan sang permaisuri pun telah berjumlah 1000. Akhirnya pada akhir kisah yang ke-1001, sang permaisuri mengingatkan sesuatu pada sang raja. Ia ingatkan tentang perilaku sang raja yang tidak baik. Sang raja pun menyesal akan perilakunya. Ia meminta maaf pada seluruh rakyatnya. Rakyat kerajaan itu, terutama penasihat kerajaan, sangat senang. Raja mereka kembali adil dan bijak. Kerajaan itu pun makmur dan sejahtera.

  •  FIGURENKONSTELLATION

Wenn man die Figurenkonstellation in einem Text untersuchen möchte, muss man die darin auftretende Charaktere genau betrachten. Wieviele Figuren tauchen auf und welchen Anteil haben sie am literarischen Geschehen?

Mögliche Untersuchungsmerkmale könnten, z.B. das Alter der Personen, das Geschlecht, ihr sozialer Stand, ihre Einstellungen oder die Art der Beziehung der Personen untereinander sein.

Jede einzelne Figur hat ihren eigenen Charakter, sie kann z.B. als aggressiv, besonders liebevoll, oder auch so neutral beschrieben sein, dass sie kaum auffällt.

Zum Schluss sollte man sich fragen, wie bedeutend die einzelnen Figuren für die Gesamtaussage eines Textes sind. Sind sie wichtig oder eher unwichtig für das Geschehen? Dabei sollte man jedoch immer bedenken, dass auch Nebenfiguren durchaus bedeutend für ein Werk sein können.

  • ERZÄHLER

Wenn man einen Text interpretiert, muss man sich immer genau anschauen, wer der Erzähler des Geschehens ist und wie er von den Ereignissen berichtet.

Dieser Erzähler darf nicht mit dem Autor eines Werkes verwechselt werden, denn die Ereignisse können auch aus einer ganz anderen Sicht erzählt werden.

Wenn die inneren Vorgänge,  also die Gedanken, Wahrnehmungen und Gefühle einer oder mehrerer Figuren wiedergegeben werden, spricht man von der Innensicht einer Erzählung.

Wird darauf verzichtet und das Geschehen nur von auβen an der von jedem ersichtlichen Oberfläche erzählt, wird dies Auβensicht genannt.

Man unterscheidet zwischen auktorial, personaler, und neutraler Erzählperspektive. Wenn von einem auktorialen Erzähler die Rede ist, handelt es sich um einen „Allwissenden“. Er greift kommentierend in das Geschehen ein, er bewertet, kennt die Vergangenheit oder deutet die Zukunft voraus.

Der personale Erzähler mischt sich in keiner Weise kommentierend ein. Dabei handelt es sich um eine konstante Erzählperspektive aus der Sicht einer bestimmten Person, deren Gefühle und Gedanken geschildert werden.

Die neutrale Erzählperspektive ist von keiner bestimmten Figur geprägt. Es gibt keine Innensicht. Eine Erzählfigur ist nicht spürbar, kommentierende Einmischungen liegen nicht vor.

Wenn von einem Ich- Erzähler die Rede ist, handelt es sich um eine perspektivische Ich- Erzählung.

Innensicht liegt nur in Bezug auf die persönlichen Gefühle und Gedanken dieses Ichs vor. Ein Ich-Erzähler kann sich kommentierend in das Geschehen einmischen und schildert dabei seine eigene Sicht der Dinge.

Beim Er-Erzähler wird das Geschehen aus der Sicht einer bestimmten Person in der 3. Pers. (Sing./Pl.) erzählt.

 

  • ZEIT UND RAUM

Die Epik kennt weder zeitliche noch räumliche Grenzen.

Der Erzähler kann in einer bestimmten Zeit verharren, Zeitspannen knapp zusammenfassen (Zeitraffungen), in die Zukunft blicken (Vorausdeutungen), oder in die Vergangenheit zurückkehren (Rückblenden).

Man unterscheidet zwischen der erzählten Zeit der Geschehnisse und der Erzählzeit, die man in der realen Zeit benötigt, um den Text zu lesen.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s