Drama (2)

 

INTERPRETASI DRAMA „WILHELM TELL“

KARYA FRIEDRICH SCHILLER

1.      Author (pengarang)

 Dalam drama berjudul Wilhelm Tell ini ditulis oleh Friedrich Schiller.  Dia lahir 10 November1759 , dan meninggal pada usia 46 tahun tepatnya pada tanggal 9 Mei1805. Schiller  adalah seorang penyair, filsuf, sejarawan, dan dramatisJerman dan karya-karyanya berpengaruh besar bagi kesusastraan Jerman.

 2.      Titel und Untertitel des Dramas (judul dan sub judul drama)

Judul drama Wilhelm Tell ini adalah untuk menggambarkan perjuangan seorang pahlawan legendaris Swiss yang bernama Wilhelm Tell.

3.      Gattungsbezeichnung (penanda jenis)

Penanda jenis karya ini disebut drama karena terdapat petunjuk lakuan dalam naskah dialog, seperti, Baummggarten: (unfasst seine Knie)= memegang lututnya dengan erat.

4.      Inhalt (Handlungsablauf) des Dramas (isi/ jalannya peristiwa drama)

Pada drama Wilhelm Tell babak pertama ini bersetting di tepi laut yang dilatar belakangi oleh hamparan tebing. Cerita bermula dari 4 orang penduduk dari Uri yaitu wilhelm Tell, Ruodi seorang nelayan, Werni seorang pemburu dan Kuoni seorang penggembala. Ketika mereka sedang memulai aktifitas sehari-hari, datanglah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, yaitu Konrad Baumgarten. Dia ingin menyelamatkan diri karena sedang dikejar-kejar musuh oleh pasukan berkuda. Dia telah membunuh kaisar Burgvogt penguasa daerah Roßberg yang telah mencemarkan aib istrinya. Sempat terjadi perdebatan ketika Baumgarten meminta pertolongan untuk menyeberang. Karena cuaca buruk sehingga Ruodi yang bertugas mengemudikan perahu tidak berani dan tidak mau mengantarkannya. Namun Baumgarten harus segera diselamatkan. Kemudian datanglah Tell yang bisa mengemudikan perahu dan dia bersedia menolong Baumgarten. Akhirnya mereka berdua pergi. Tepat pada saat itu, datanglah dua pasukan berkuda. Mereka marah karena Baumgarten bisa meloloskan diri. Mereka merobohkan dan membakar gubuk Kuoni.

5.      Aufbau des Dramas/ Strukturgesetz (struktur drama)

Wujud fisik drama naskah ini adalah dialog atau ragam tutur. Konflik drama terbangun oleh pertentangan antara tokoh-tokohnya. Konflik dimulai dari awal cerita yakni ketika Baumgarten datang dengan tergesa-gesa meminta pertolongan dari kejaran pasukan berkuda kemudian Baumgerten menceritakan apa yang dialami. Oleh karna itu dia meminta bantuan untuk diantar menyebrang laut untuk menyelamatkan diri. Klimaks atau titik puncak cerita terjadi ketika semua tokoh berdebat untuk menentukan siapa yang akan menyelamatkan Baumgarten. Resolusi atau penyelesaiannya ketika Tell datang dan bersedia menolong Baumgarten menyebrangi lautan. 

Setting atau tempat kejadian peristiwa dilukiskan secara jelas, yakni setting tempat dalam babak pertama ini terjadi didaerah pesisir pantai. Sedangkan setting waktu terjadi ketika waktu akan senja.

6.      Personen der Handlung (tokoh dalam alur)

Penggambaran watak tokoh dalam drama ini tidak digambarkan secara jelas atau tersurat. Hal ini bertujuan agar pembaca atau penonton dapat mengembangkan sendiri watak dari tokoh berdasarkan imajinasinya. Pada babak pertama drama ini masih belum bisa diketahui siapa yang menjadi tokoh antagonis, protagonis, dan tritagonis.

 Berikut ini adalah tokoh-tokoh dan beberapa watak dalam drama ini:

1.      Wilhelm Tell : pemberani, tegas, penolong.

2.      Kuoni           : banyak bicara.

3.      Ruodi           : tidak berani mengambil resiko, keras kepala.

4.      Werni           : pendiam

5.      Baumgarten  : berani mengambil resiko, pantang menyerah,

6.      Seppi           : penakut

7.      Penunggang kuda pertama : kasar, tegas.

8.      Penunggang kuda kedua     : kasar, tegas.

 7.      Heranziehen von Kern- und Gelenkstellen, Dialogteilen und wichtigen Szensen (penarikan inti, bagian dialog dan babak penting)

Penarikan inti dari drama babak pertama ini adalah ketika Tell berani menyelamatkan Baumgarten dengan menyeberangi lautan yang sedang dalam keadaan buruk. Penarikan inti ini terdapat pada dialog di bagian akhir menjelang babak pertama selesai.

8.      Idee des Dramas (ide drama)

Ide yang mendasari drama ini adalah keinginan Friedrich Schiller untuk mengangkat kisah kepahlawanan dari Willhelm Tell.

PROSES-PROSES PEMENTASAN DRAMA „WILHELM TELL“ KARYA FRIEDRICH SCHILLER

A.     Tahap persiapan.

Dalam tahap persiapan ini beberapa langkah yang ditempuh, antara lain:

§      Langkah pertama adalah memilih cerita yang akan dipentaskan yang disesuaikan dengan maksud pementasan. Akhirnya kelompok memutuskan mengambil naskah drama yang berjudul „Wilhelm Tell“. Pemilihan naskah ini dikarenakan karya tersebut merupakan karangan  dari sastrawan jerman yang sudah terkenal Friedrich Schiller. Selain itu, naskah ini sudah terdapat dalam materi drama sebelumnya dan berbahasa jerman.

§   Langkah kedua adalah menentukan atau memilih siapa yang akan bertindak sebagai sutradara. Berdasarkan hasil dari musyawarah kelompok, maka diputuskan bahwa yang akan menjadi sutradara adalah Hafidz.

§      Langkah ketiga adalah sutradara memilih para pemeran dari masing-masing karakter yang terdapat dalam naskah drama. Dalam memilih pemeran ini sutradara meminta bantuan dari teman-teman sekelas yang sudah berpengalaman dalam sebuah pementasan, yakni Maimun, Mei, Esty, Zainul, Hafidz yang merupakan anggota dari teater Über dan Lasmi dari teater Hampa serta  beberapa teman yang bersedia membantu dalam pementasan ini seperti Dani dan Sophie. Selain itu sutradara juga menentukan pemain musik yakni Leo yang membantu dalam keindahan dari drama.

§     Langkah keempat adalah menentukan cara yang terbaik untuk mementaskan cerita tersebut. Cara yang dapat dilakukan antara lain:  (1) Mempelajari naskah dengan tujuan untuk mengenal tema, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Pada proses ini kelompok membantu para pemeran dengan menceritakan karakter yang akan mereka mainkan, plot dari cerita, dan juga pemain mempelajari sendiri naskah yang akan mereka mainkan. (2) Menganalisis setiap tokoh beserta wataknya serta hubungannya satu sama lain.

§      Langkah kelima adalah menentukan kostum, properti dan make up yang diperlukan untuk mendukung karakter setiap pemain. Adapun kostum dan properti yang digunakan oleh masing-masing pemain antara lain:

§      Kostum:

  • Baumgarten:       Rompi, Hem putih,  Celana panjang abu-abu,  Sepatu hitam,  Kaos kaki.
  • Werni: Celana pendek, Hem putih, Sepatu, topi.
  • Kuoni: Celana pendek, Hem putih, Suspender, Topi bulat, Sepatu dan kaos kaki.
  • Ruodi : Kaos besar rombeng, Celana pendek, Sarung, topi.
  • Tell: Hem putih, Jas hitam panjang, Celana panjang, Sepatu dan kaos kaki, Topi koboi.
  • Seppi: Hem putih, Rok panjang, Aksesoris kepala, seperti bando.
  • 1. und 2. Reiter: Baju Paskibra, Celana hitam, Sepatu, Scraf.

§      Properti

o       Tisu berdarah

o       Seruling

o       Tongkat panjang

o       Pedang

o       Pancing

§      Peralatan Make Up

o       Pembersih

o       Penyegar

o       Foundation

o       Bedak

o       Lipstik

o       Pensil alis

o       Maskara

      Tahap Latihan

Dalam tahap latihan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: (1) Suasana harus selalu gembira, (2) penuh semangat, (3) adanya kesungguhan dan kemauan untuk bekerja sama, (4) latihan itu haruslah intensif, kreatif, efektif. Oleh karena itu perlu diadakan rencana latihan yang ketat, bertahap dan realistis. Tahap-tahap yang terdapat dalam masa latihan ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

·        Latihan membaca.

Sebelum pembacaan dimulai, terlebih dahulu sutradara menerangkan secara singkat tema lakon, interpretasi, cara pementasan, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Latihan membaca dilakukan dengan membaca nyaring.

·        Latihan Blocking.

Dalam tahap ini ditentukan blocking setiap pelaku, yakni gerak dan pengelompokan pelaku. Setiap gerak, isyarat, mimik haruslah mempunyai arti dalam pengespreksian lakon tersebut.

·        Latihan Karya.

Dalam tahap ini setiap pelaku dituntut untuk menguasai dan menghafal teks diluar kepala, begitu juga dengan gerak lakunya. Pada latihan ini dialog dan gerak laku disinkronisasikan, interpretasi dikembangkan dan terjadi penambahan gerakan-gerakan kecil yang dapat membantu dalam penggambaran watak tokoh.

·        Latihan Pelicin.

Berlainan dengan latihan-latihan terdahulu di mana diadakan latihan adegan demi adegan, babak demi babak, maka dalam latihan pelicin ini seluruh lakon harus dapat dilatih secara penuh dan kontinyu tanpa suatu selingan atau intruksi. Setiap pelaku harus dapat merasakan serta menghayati suka dukanya, perjuangannya, kejayaannya, kegagalannya dan lain-lain.

·        Latihan Umum.

Latihan ini merupakan latihan yang terakhir sebelum pementasan. Pada saat ini pelaku dan karyawan pentas diberikan kesempatan terakhir untuk mengecek serta menyempurnakan tugas masing-masing. Pada saat ini tugas seorang sutradara telah berakhir. Tanggung jawab pementasan berada pada tangan kru. Pimpinan seluruhnya berada di tangan pemimpin panggung dan asisten sutradara. Pada saat inilah kerja sama yang baik benar-benar diperlukan. Jika ada sedikit kesalahan maka akan mengganggu keseluruhan pementasan.

Keseluruhan latihan pada pementasan ini yakni selama tiga hari. Pada hari pertama sutradara dan pemain hanya melakukan proses Reading. Proses ini bertujuan untuk melatih pendalaman karakter dari masing-masing tokoh, intonasi,  vokal, dan lain-lain. Selain itu juga membantu para pemain untuk menghafalkan dialog yang harus mereka ucapkan. Namun karena kurang matangnya persiapan pementesan akhirnya untuk membantu pemain dalam mengucapkan dialog pemain akan dibantu dengan slide yang berisi dialog. Selanjutnya setelah proses ini pemain berlatih langsung memerankan setiap dialog yang terdapat dalam naskah. Mereka berlatih kapan saat mereka harus mengucapkan dialog mereka dan juga berlatih tentang blocking. Selama proses latihan ini kendala yang ditemukan adalah apabila salah satu pemain tidak bisa datang dalam latihan  dikarenakan ada kepentingan pribadi. Sehingga proses latihan ini juga tida bisa berjalan secara maksimal.

Malam Perdana

Malam perdana merupakan klimaks dari jerih payah aktor, sutradara dan kru pendukung lainnya. Pada malam ini naskah drama yang telah dipelajari dan dilatih akan dipentaskan. Semua kru, pemain dan sutradara mengerjakan tugas masing-masing, seperti team musik menyiapkan semua peralatan musik dan mengatur tempat dia memainkan musik. Para pemain memakai kostum dan berdandan sesuai dengan karakter masing-masing. Sutradara mengatur jalannya pementasan, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

INTERPRETASI DRAMA „WILHELM TELL“

KARYA FRIEDRICH SCHILLER

1.      Author (pengarang)

 

Dalam drama berjudul Wilhelm Tell ini ditulis oleh Friedrich Schiller.  Dia lahir 10 November1759 , dan meninggal pada usia 46 tahun tepatnya pada tanggal 9 Mei1805. Schiller  adalah seorang penyair, filsuf, sejarawan, dan dramatisJerman dan karya-karyanya berpengaruh besar bagi kesusastraan Jerman.

 

2.      Titel und Untertitel des Dramas (judul dan sub judul drama)

 

Judul drama Wilhelm Tell ini adalah untuk menggambarkan perjuangan seorang pahlawan legendaris Swiss yang bernama Wilhelm Tell.

 

3.      Gattungsbezeichnung (penanda jenis)

 

Penanda jenis karya ini disebut drama karena terdapat petunjuk lakuan dalam naskah dialog, seperti, Baummggarten: (unfasst seine Knie)= memegang lututnya dengan erat.

 

4.      Inhalt (Handlungsablauf) des Dramas (isi/ jalannya peristiwa drama)

 

Pada drama Wilhelm Tell babak pertama ini bersetting di tepi laut yang dilatar belakangi oleh hamparan tebing. Cerita bermula dari 4 orang penduduk dari Uri yaitu wilhelm Tell, Ruodi seorang nelayan, Werni seorang pemburu dan Kuoni seorang penggembala. Ketika mereka sedang memulai aktifitas sehari-hari, datanglah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, yaitu Konrad Baumgarten. Dia ingin menyelamatkan diri karena sedang dikejar-kejar musuh oleh pasukan berkuda. Dia telah membunuh kaisar Burgvogt penguasa daerah Roßberg yang telah mencemarkan aib istrinya. Sempat terjadi perdebatan ketika Baumgarten meminta pertolongan untuk menyeberang. Karena cuaca buruk sehingga Ruodi yang bertugas mengemudikan perahu tidak berani dan tidak mau mengantarkannya. Namun Baumgarten harus segera diselamatkan. Kemudian datanglah Tell yang bisa mengemudikan perahu dan dia bersedia menolong Baumgarten. Akhirnya mereka berdua pergi. Tepat pada saat itu, datanglah dua pasukan berkuda. Mereka marah karena Baumgarten bisa meloloskan diri. Mereka merobohkan dan membakar gubuk Kuoni.

 

5.      Aufbau des Dramas/ Strukturgesetz (struktur drama)

 

Wujud fisik drama naskah ini adalah dialog atau ragam tutur. Konflik drama terbangun oleh pertentangan antara tokoh-tokohnya. Konflik dimulai dari awal cerita yakni ketika Baumgarten datang dengan tergesa-gesa meminta pertolongan dari kejaran pasukan berkuda kemudian Baumgerten menceritakan apa yang dialami. Oleh karna itu dia meminta bantuan untuk diantar menyebrang laut untuk menyelamatkan diri. Klimaks atau titik puncak cerita terjadi ketika semua tokoh berdebat untuk menentukan siapa yang akan menyelamatkan Baumgarten. Resolusi atau penyelesaiannya ketika Tell datang dan bersedia menolong Baumgarten menyebrangi lautan. 

Setting atau tempat kejadian peristiwa dilukiskan secara jelas, yakni setting tempat dalam babak pertama ini terjadi didaerah pesisir pantai. Sedangkan setting waktu terjadi ketika waktu akan senja.

 

6.      Personen der Handlung (tokoh dalam alur)

 

Penggambaran watak tokoh dalam drama ini tidak digambarkan secara jelas atau tersurat. Hal ini bertujuan agar pembaca atau penonton dapat mengembangkan sendiri watak dari tokoh berdasarkan imajinasinya. Pada babak pertama drama ini masih belum bisa diketahui siapa yang menjadi tokoh antagonis, protagonis, dan tritagonis.

 

Berikut ini adalah tokoh-tokoh dan beberapa watak dalam drama ini yang kami analisis,  antara lain:

1.      Wilhelm Tell : pemberani, tegas, penolong.

2.      Kuoni           : banyak bicara.

3.      Ruodi           : tidak berani mengambil resiko, keras kepala.

4.      Werni           : pendiam

5.      Baumgarten  : berani mengambil resiko, pantang menyerah,

6.      Seppi           : penakut

7.      Penunggang kuda pertama : kasar, tegas.

8.      Penunggang kuda kedua     : kasar, tegas.

 

7.      Heranziehen von Kern- und Gelenkstellen, Dialogteilen und wichtigen Szensen (penarikan inti, bagian dialog dan babak penting)

 

Penarikan inti dari drama babak pertama ini adalah ketika Tell berani menyelamatkan Baumgarten dengan menyeberangi lautan yang sedang dalam keadaan buruk. Penarikan inti ini terdapat pada dialog di bagian akhir menjelang babak pertama selesai.

 

8.      Idee des Dramas (ide drama)

 

Ide yang mendasari drama ini adalah keinginan Friedrich Schiller untuk mengangkat kisah kepahlawanan dari Willhelm Tell.

 

 

 

 

 

PROSES-PROSES PEMENTASAN DRAMA „WILHELM TELL

KARYA FRIEDRICH SCHILLER

 

A.     Tahap persiapan.

Dalam tahap persiapan ini beberapa langkah yang ditempuh, antara lain:

§      Langkah pertama adalah memilih cerita yang akan dipentaskan yang disesuaikan dengan maksud pementasan. Akhirnya kelompok memutuskan mengambil naskah drama yang berjudul „Wilhelm Tell“. Pemilihan naskah ini dikarenakan karya tersebut merupakan karangan  dari sastrawan jerman yang sudah terkenal Friedrich Schiller. Selain itu, naskah ini sudah terdapat dalam materi drama sebelumnya dan berbahasa jerman.

§      Langkah kedua adalah menentukan atau memilih siapa yang akan bertindak sebagai sutradara. Berdasarkan hasil dari musyawarah kelompok, maka diputuskan bahwa yang akan menjadi sutradara adalah Hafidz.

§      Langkah ketiga adalah sutradara memilih para pemeran dari masing-masing karakter yang terdapat dalam naskah drama. Dalam memilih pemeran ini sutradara meminta bantuan dari teman-teman sekelas yang sudah berpengalaman dalam sebuah pementasan, yakni Maimun, Mei, Esty, Zainul, Hafidz yang merupakan anggota dari teater Über dan Lasmi dari teater Hampa serta  beberapa teman yang bersedia membantu dalam pementasan ini seperti Dani dan Sophie. Selain itu sutradara juga menentukan pemain musik yakni Leo yang membantu dalam keindahan dari drama.

§      Langkah keempat adalah menentukan cara yang terbaik untuk mementaskan cerita tersebut. Cara yang dapat dilakukan antara lain:  (1) Mempelajari naskah dengan tujuan untuk mengenal tema, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Pada proses ini kelompok membantu para pemeran dengan menceritakan karakter yang akan mereka mainkan, plot dari cerita, dan juga pemain mempelajari sendiri naskah yang akan mereka mainkan. (2) Menganalisis setiap tokoh beserta wataknya serta hubungannya satu sama lain.

§      Langkah kelima adalah menentukan kostum, properti dan make up yang diperlukan untuk mendukung karakter setiap pemain. Adapun kostum dan properti yang digunakan oleh masing-masing pemain antara lain:

 

§      Kostum


ü      Baumgarten

o       Rompi

o       Hem putih

o       Celana panjang abu-abu

o       Sepatu hitam

o       Kaos kaki

ü      Werni

o       Celana pendek

o       Hem putih

o       Sepatu

o       topi

ü      Kuoni

o       Celana pendek

o       Hem putih

o       Suspender

o       Topi bulat

o       Sepatu dan kaos kaki

ü      Ruodi

o       Kaos besar rombeng

o       Celana pendek

o       Sarung

o       topi

ü      Tell

o       Hem putih

o       Jas hitam panjang

o       Celana panjang

o       Sepatu dan kaos kaki

o       Topi koboi

ü      Seppi

o       Hem putih

o       Rok panjang

o       Aksesoris kepala, seperti bando

ü      1. und 2. Reiter

o       Baju Paskibra

o       Celana hitam

o       Sepatu

o       Scraf


 

 

 

 

 

 

 

§      Properti

o       Tisu berdarah

o       Seruling

o       Tongkat panjang

o       Pedang

o       Pancing

 

 

§      Peralata Make Up

o       Pembersih

o       Penyegar

o       Foundation

o       Bedak

o       Lipstik

o       Pensil alis

o       Maskara

 

 

B.     Tahap Latihan

Dalam tahap latihan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: (1) Suasana harus selalu gembira, (2) penuh semangat, (3) adanya kesungguhan dan kemauan untuk bekerja sama, (4) latihan itu haruslah intensif, kreatif, efektif. Oleh karena itu perlu diadakan rencana latihan yang ketat, bertahap dan realistis. Tahap-tahap yang terdapat dalam masa latihan ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

 

·        Latihan membaca.

Sebelum pembacaan dimulai, terlebih dahulu sutradara menerangkan secara singkat tema lakon, interpretasi, cara pementasan, konflik, suspense dan klimaks dari naskah drama. Latihan membaca dilakukan dengan membaca nyaring.

·        Latihan Blocking.

Dalam tahap ini ditentukan blocking setiap pelaku, yakni gerak dan pengelompokan pelaku. Setiap gerak, isyarat, mimik haruslah mempunyai arti dalam pengespreksian lakon tersebut.

·        Latihan Karya.

Dalam tahap ini setiap pelaku dituntut untuk menguasai dan menghafal teks diluar kepala, begitu juga dengan gerak lakunya. Pada latihan ini dialog dan gerak laku disinkronisasikan, interpretasi dikembangkan dan terjadi penambahan gerakan-gerakan kecil yang dapat membantu dalam penggambaran watak tokoh.

·        Latihan Pelicin.

Berlainan dengan latihan-latihan terdahulu di mana diadakan latihan adegan demi adegan, babak demi babak, maka dalam latihan pelicin ini seluruh lakon harus dapat dilatih secara penuh dan kontinyu tanpa suatu selingan atau intruksi. Setiap pelaku harus dapat merasakan serta menghayati suka dukanya, perjuangannya, kejayaannya, kegagalannya dan lain-lain.

·        Latihan Umum.

Latihan ini merupakan latihan yang terakhir sebelum pementasan. Pada saat ini pelaku dan karyawan pentas diberikan kesempatan terakhir untuk mengecek serta menyempurnakan tugas masing-masing. Pada saat ini tugas seorang sutradara telah berakhir. Tanggung jawab pementasan berada pada tangan kru. Pimpinan seluruhnya berada di tangan pemimpin panggung dan asisten sutradara. Pada saat inilah kerja sama yang baik benar-benar diperlukan. Jika ada sedikit kesalahan maka akan mengganggu keseluruhan pementasan.

Keseluruhan latihan pada pementasan ini yakni selama tiga hari. Pada hari pertama sutradara dan pemain hanya melakukan proses Reading. Proses ini bertujuan untuk melatih pendalaman karakter dari masing-masing tokoh, intonasi,  vokal, dan lain-lain. Selain itu juga membantu para pemain untuk menghafalkan dialog yang harus mereka ucapkan. Namun karena kurang matangnya persiapan pementesan akhirnya untuk membantu pemain dalam mengucapkan dialog pemain akan dibantu dengan slide yang berisi dialog. Selanjutnya setelah proses ini pemain berlatih langsung memerankan setiap dialog yang terdapat dalam naskah. Mereka berlatih kapan saat mereka harus mengucapkan dialog mereka dan juga berlatih tentang blocking. Selama proses latihan ini kendala yang ditemukan adalah apabila salah satu pemain tidak bisa datang dalam latihan  dikarenakan ada kepentingan pribadi. Sehingga proses latihan ini juga tida bisa berjalan secara maksimal.

 

C.     Malam Perdana

Malam perdana merupakan klimaks dari jerih payah aktor, sutradara dan kru pendukung lainnya. Pada malam ini naskah drama yang telah dipelajari dan dilatih akan dipentaskan. Semua kru, pemain dan sutradara mengerjakan tugas masing-masing, seperti team musik menyiapkan semua peralatan musik dan mengatur tempat dia memainkan musik. Para pemain memakai kostum dan berdandan sesuai dengan karakter masing-masing. Sutradara mengatur jalannya pementasan, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Drama (1)

Was ist bei der Interpretation eines Dramas zu beachten?

1.      Autor

Vita des Autors, besondere Lebensumstände, Beziehungen des Autors zu seine Epoche und zu wichtigsten Persönlichkeiten derselben ; Intentionen des Autors, seine besonderen Interssen und Gründe für seine Hinwendung zu dem zu interpretierenden Drama.

2.      Titel und Untertitel des Drama

Was sagt der Titel aus? Ist er gut und treffend gewählt oder zu allgemein gehalten? Welche Erwattungen weckt er? Warum hat der Autor diesen Titel gewählt?  Was sagt der Untertitel aus? Ergänzt, erweitert er den Dramentitel oder schränkt er ihn ein? War es nötig, demTitel einen Untertitel hinzuzufügen? Wenn ja, warum?

3.      Gattungsbezeichnung

Gibt die Gattungsbezeichnung Aus kunft über den Charakter des Dramas? Welche Erwattungen weckt sie? Trifft sie das Wesen und den Kern des Dramas?

4.      Inthalt (Handlungsablauf) des Dramas

Eine Interpretation eines Dramas ist nicht möglich,ohne daβ sich der Interpret mit dem Inhalt (dem Handlungsablauf) des Werkes gründlich vertraut gemacht hat. Das Stück sollte zunächst als Ganzes gelesen werden ; eine kurzgefaβte Inhalts – angabe kann schriftlich fixiert werden ; besonders wichtige Szenen, Szenenteile oder Kernstellen sollten während der Lektüre gekennzeichnet und notiert weurden und einer späteren ausführlichen ausdeutung vorbehalten bleiben.

Je intesiver die kenntnisse des Stückinhalts ist, je sorgfältiger unnd exacter das Stück durch gearbeitet wird, desto leichter wird es zu interpretieren sein, desto gründlicher undzutreffender wird die Interpretation ausfallen.

5.      Aufbau des Dramas (Strukturgesetz):

Daβ die Form des Dramas, sein Aufbau, seine Gliederung, die Einteilung in Akte und Szensen, sein strukturgesetzt besonderer beachtung bedürfen, versteht sich von selbst. Sie sagen viel über die Art des Stückes, über sein Wesen, über sein Charakter aus. Der interpret wird sich zweckmäβigweise ein Schema des Aufbaus skizzieren ;es hilft ihm – schon rein visuell – Wesentliches zu erkennen und gibt ihm eine entscheidende Handhabe für die Interpretation..

6.      Personen der Handlung :

Die Personen der Handlung müssen einer intensiven Betrachtung unterzogen werden : Anlage der Charaktere, Einstufung in den Handlungsablauf, stellung zu einander, besondere Personnenkonstellation, Rollenverständnis.

Art und Durchführung der Personenzeichnung, verhältnis zur Umwelt der Personen, zum sozialen Bereich, zu ihrer Epoche ; Verhältnis zum Autor des Dramas.

Welche Charakterzüge treten am stärksten hervor, charakterisieren sie am deutlichsten?

Entsprechen die Personen den Intentionen und Erwartungen des Autors wie des Lesers?

Wie äuβern sich ihre sozialen Bezüge?

7.      Heranziehen von Kern- und Gelenkstellen, Dialogteilen und wichtigen Szensen:

Ein Drama, das interpretiert werden muβ, sollte „mit dem Bleistift in der Hand“ gelesen werden : Kern- und Gelenkstellen werden angestrichen, angekreuzt, unterstrichen. wenn die Textaufgabe geschont werden soll – exzerpiert.

Entscheidende Dialogstellen und wichtige Szenen werden angemerkt und zur Inetrpretation besonders herangezogen ; besonders typische Dialoge, Stichomythien, charakterissiere monologe werden als Nachweise für stilistisches Können des Autors berücksichtigt.

8.      Idee des Dramas :

Oberstes Ziel jeder Interpretation ist es, die Idee eines Werkes, eines Dramas herauszuschälen. Die Idee ist übergeordneter Natur, sie ergibt sich aus der Anlage des Stückes, den Konstellationen der Personen, ihren Äuβerungen und Konfliksituationen ; vor allem aber aus dem Ausgang des Stückes, dem die Handlung zusterbt.

Die Katastrophe oder die Lösung des Konflktes in einer geschlossenen oder ofennen Form des Dramas läβt den Sinn des Strückes, seine Idee, die zugrundeliegende dichterische Absicht sichtbar werden.

9.      Das Drama und seine Bedeutung im Rahmen des Gesamtschaffens des Dichters und der jeweiligen Zeitepoche :

Kein Kunstwerk steht, losgelöst von allen Zeit- und Umweltbezügen für sich allein da ; die epochalen und historischen Gegebenheiten und Fakten müssen bei der Interpretation und Beurteilung eines Dramas mitberücksichtigt werden. Es ist sowohl in das Gesamtschaffen des Dichters wie in das Schaffen seiner Zeitepoche einzuordnen und danach zu werten. Dazu gehört auch die soziologische Betrachtung des Werkes, die gesellschatskritische Einordnung desselben in die Zeit seiner Entstehung sowie die spätere Wirkungsgeschichte des Werkes.

10.  Heranziehen von Beiträgen der Literaturwissenschaft, Literaturkritik und der Sekundärliteratur

Den Originaltext des zu interpretierenden Dramas findet man in kritisch komentieren Gesamt- oder Sammelausgaben der Werke des Autors. Für die Analyse oder Interpretationen eines Dramas muβ man sich aber mit den forschungsgeschichtlicht wichitige literarischen Beiträgen auseinandersetzen, welche die Problemkreise des Dramas betreffen. Das weite Feld der Sekundärliteratur ist am besten durch Bibliographieren zu erschlieβen ; oft bieten Themenspezifische. Werke solche als Anhang, Gero von Wilpert).

Jenis- Jenis Drama

Terdapat beberapa cara untuk membedakan jenis-jenis drama, diantaranya jenis drama dapat dibedakan berdasarkan konflik dan cara penyusunannya:

  • Nach dem zugrundeliegenden Konflikt:

Schicksalsdrama (Sophokles, „König ödipus“)

Freie Entscheidungsfähigkeit des Helden durch äußere Macht beeinträchtigt; im griechischen Drama durch Willen der Götter, im deutschen Drama durch unheimliches Schicksal, das sich durch Fluch, Traum oder Orakelspruch ankündigt; Held persönlich schuldlos.

Charakterdrama (Goethe, „Torquato Tasso“, Schiller, „Wallenstein“)

Im Unterschied zum Handlungsdrama und Ideendrama; Überwiegen der inneren Handlung (Darstellung und Entfaltung eines bemerkenswerten Charakters).

Ideendrama (Schiller, „Don Carlos“)

Meist geschlossene Form; eine das Drama bestimmende große einheitliche Idee oder Weltanschauung, der Geschehensablauf und Charaktere untergeordnet sind.

Milieudrama (Hauptmann, „die Weber“)

  • Nach dem dramatischen Aufbau :

      Analytisches Drama (In ihm liegt die entscheidende Tat vor Beginn des Dramas, sie wird Im Verlauf der Bühnenhandlung nur allmählich enthüllt, z. B. Sophokles, „König ödipus“ ; Kleist, „Der zerbrochene Krug“).

Zieldrama (ein Drama, das in strengem Aufbau und kausaler Verknüpfung und Motivierung auf eine an das Ende verlegte Katastrophe hinzielt (z. B. Lessing, „Emilia Galotti“ ; Schiller, „Wallenstein“). Bei beiden dramentypen steht jede Einzelheit in Beziehung zum Handlungsergebnis, beim analytischen Drama rückwärts gerichtet zum Ausgangspunkt, beim Zieldrama vorwärts gewanndt zum Endpunkt.

Geschlossene Form des Dramas (Eindeutige haupthandlung, lineate und kontinuierliche Gestaltung, streng kausale Verknüpfung aller Handlungselemente, Einheit und Ganzheit der Handlung, des Raumes und der Zeit mit Deutliche gesetztern Schluβpunkt).

Offene Form des Dramas (Abfolge mehrerer räumlich und zeitlich voneinander getrennter Handlungsbläufe, lose Aneinanderreihung einzelner Szenen, lockerer Aufbau, unbestimmter, offener Schluβ).

Episches Drama :Im Gegensatz zum klassisch-aristotelischen Drama, das die Wahrung der Einheit von Ort, Zeit und Handlung fordert und das Bühnengeschehendem Zuschauer „aufdrängt“, fordert Brecht, der Schöpfer des „epischen Drama“ , statt des „illusionistischen Bühnenerlebnisses, das den Zuschauer suggestive und gefühlsmäβig ergreift eine objektiv-demonstrierende Form, die den Zuschauer zum distanzierten Betrachter und rationalen Beurteiler macht, der sich nicht suggestiv von dem Bühnengeschehen „vereinnahmen“ läβt. Brecht will diese Wirkung durch „Verfremdung“ einzelner Handlungselemente, lose Aneinanderreihung von einzelszenen und vorherige Bekanntgabe des Handlungsablaufs erzielen.

Tragödie : Hauptgattung und wichtigste Dramenform, die einen unabwendbaren Konflikt eines individuums mit der sittlichen Weltordnung, mit einem von auβen herantretenden Schicksal gestaltet, der zum Zusammenbruch oder Untergang des individuums führt. In der Tragödie geht es um „der Menschheit groβe Gegenstände, um Herrschaft und um Freiheit“, Schuld und Sühne, Freiheit ind Notwendigkeit, Mensch und Gott. Als dramatische Kunstform wurde die Trägodie von den Griechen begründet und hat in der Form des tragischen Seinserlebnisses die Jahrtausende überdauert.

Schauspiel : Zwischenform zwischen Trauerspiel und Lustspiel, die der tragödie näher steht, aber nicht die groβe Höhe und den vollen Ernst derselben erreicht, weil der Held den Konflikt überwindet und es zu einem Ausgleich oder einer befriedigenden Lösung kommt.

Komödie : Wichtigste dramatische Gattungsform nach der Tragödie, die menscliche Schwäche und Torheiten, gesellschaftliche Miβtande, fragwurdige Ideologien usw. verspottet und geiβelt, Scheinwerte und Unzulänglichkeiten entlarvt bloβstellt und Konflikte in heiterer, amüsanter oder ironischer Weise löst. Man unterscheidet Charakterkomödie, in der bestimmte Charaktereigenschaften wie übertriebenen Ehrsucht, Eitelkeit, Geiz usw. bloβgestellt werden, und Situationskomödie, in der verwechslungen, Zufälle, Intrigen usw. dominieren.

Lustspiel : Eine erst seit dem 18. Jahrhundert (Gottsched) verwandte Bezeichnung für jedes Stück mit heiterem Ausgang, im Gegensatz zu der aus der zugespitzten Komik entstandenen Komödie, aus der Haltung des Humors entstanden ; jedoch sind die Grenzen zwishen Komödie und Lustspiel flieβend. Das Lustspiel soll weniger  Bloβtellung von Unzulänglichkeiten als vielmehrreine Heiterkeit und Fröhlich keit erzeugen.

Tragikomödie : Enge Verbindung von Tragik und Komik, wodurch eine konttrastwirkung erreicht wird, die die Zwiespältigkeit der Welt oder bestimmter Situationen und vorgänge offenbart.

Bürgerliches Trauerspiel : Drama, dessen Konflikte sich am Gegensatz zwischen niederen und öberen Ständen, zwischen Bürgertum und Adel entzündenoder das Konflikte innerhalb einer bürgerlichen Schicht und Weltordung darstellt, die aus dieser selbst erwachsen.

Dokumentarstückt : das Dokumentarstückt stellt unter Verwendung von historischen Fakten und Zeitdokumenten geschicthliche Geschehnisse und bedeutende historische Vorgänge dar, wobei Vorurteilslosigkeit,Unparteilichkeit und Gerechtigkeit des Autors dringend notwendig sind, wenn das Dokumentarstückt nicht ideologisch verfärbt werden und tendenzlös gestaltet werden  soll.

Posse : Komödienform, die durch eine meist primiv-derbe übertreibung und satirisch-ironische Situationskomik menschliche Schwähen und Narrheiten verspottet. In kleineren Formen steht sie dem Schwank nahe.

Farce : Ein Spiel, das menschliche Schwächen und Torheiten in typischen Erscheinungen und Situationen kritisiert und verspottet ; oft in satirischer und polemischer Form. Max Frisch nennt sein stückt „Die Chinesische Mauer“ eine Farce.

Volkstückt : Eine aus dem Volksleben entnommene Handlung in derber, oft mundartlicher Form oder im Jargon der Umgangssprache. Meist voll kräftiger unmiβverstandlicher Situationskomikund charakterisischer Polemik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Guntur, Hennry.Taringan. 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Harymawan, RMA. 1986. Dramaturgi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

J. Herman.Waluyo. 2003. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.

Neis, Edgar. 1990. Bange Lenrhilfen Deutsch Wie interpretiere ich ein Drama?. Hollfeld: Bange Verlag.

____. http://de.wikipedia.org/wiki/Drama. (Online), diakses 64April 2011

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lyrik (10): Das Lyrische Ich

Das Lyrische ich adalah sebuah lirik yang ada dalam puisi atau karya sastra yang dituliskan pengarang seolah-olah pengarang sendiri yang mengalami, merasakan, dan kemudian mengungkapkannya. Hal ini dapat berupa pengalaman pribadi pengarang sendiri atu dapat juga dari pengalaman orang lain yang kemudian dituangkan dalam bentuk das Lyrische ich. Das Lyrische ich dapat juga dalam bentuk Autobiografi.

Das lyrische ich adalah sebuah elemen yang penting dalam sebuah puisi. Kadang-kadang das Lyrische ich disamakan dengan pengarang puisi itu sendiri.  Pengalaman dan perasaan seseorang pada sebuah puisi dihubungkan dengan pengalaman dan perasaan pengarang dalam kehidupan nyata.  Keterangan di awal sajak dapat juga menipu, karena perasaan dan pengalaman seseorang dan pengarang tidak harus sama. Banyak contoh pemikiran dari para sastrawan, misalnya Shakespeare, seorang penulis dari inggris harus mengetahui tentang homosex, karena dalam sebuah sonett yang terkenal tidak hanya terdapat kasih sayang dari dan untuk wanita yang tidak dikenal, tetapi  juga berbicara tentang remaja cantik.

Istilah das Lyrische ich dalam ilmu kesustraan tradisional ditandai dengan juru bicara yang tidak nyata atau suara dari sebuah puisi (lirik) atau teks ( teks lagu). Figur dalam puisi dapat juga diciptakan oleh pengarang sendiri. Sesuai dengan hal tersebut keberagaman bentuk dalam das Lyrische ich dapat ditampilkan dalam puisi. Puisi tersebut dapat dibentuk dari pengalaman pribadi. Jika seseorang ingin menulis das lyrische yang tidak memihak, seseorang menandai hal tersebut sebagai “Sprecherinstanz”. Terdapat banyak puisi, yang didalamnya ditemukan yang menggunakan das Lyrische ich, pengalaman dan pengetahuan. Berikut ini beberapa contoh :

Johann Wolfgang von Goethe

Gefunden

Ich ging im Walde
So für mich hin,
Und nichts zu suchen,
Das war mein Sinn.

Im Schatten sah ich
Ein Blümchen stehn,
Wie Sterne leuchtend,
Wie Äuglein schön.

Ich wollt es brechen,
Da sagt es fein:
Soll ich zum Welken
Gebrochen sein ?

Ich grubs mit allen
Den Würzlein aus,
Zum Garten trug ichs
Am hübschen Haus.

Und pflanzt es wieder
Am stillen Ort;
Nun zweigt es immer
Und blüht so fort.

 

Pada puisi tersebut terdapat banyak presentasi dari das Lyrische ich. Enam kali menggunakan kata aku, satu kali menggunakan kata ganti orang “mich“. Ada juga contoh lainnya seperti :

 

An Luise

(Joseph von Eichendorff)

Ich wollt in Liedern oft dich preisen,

Die wunderstille Güte,

Wie du ein halbverwildertes Gemüte

Dir liebend hegst und heilst auf tausend süße Weisen,

Des Mannes Unruh und verworrnem Leben

Durch Tränen lächelnd bis zum Tod ergeben.

Doch wie den Blick ich dichtend wende,

So schön still in stillem Harme

Sitzt du vor mir, das Kindlein auf dem Arme,

Im blauen Auge Treu und Frieden ohne Ende,

Und alles laß ich, wenn ich dich so schaue –

Ach, wen Gott lieb hat, gab er solche Fraue!

Pada puisi tersebut terdapat presentasi dari lirik “Ich”

Dibawah ini terdapat kategori yang digunakan dalam mengkarakteristik das lyrischen ich :

  1. Apakah pengalaman pribadi di tuangkan dalam bentuk puisi?
  2. Mengungkapkan perasaan  dengan ‘lyrische ich’ seperti rasa takut atau harapan, kesedihan atau sukacita, keraguan atau kepastian, kekecewaan, ucapan terima kasih, dll.
  3. Sejauh mana “ich” setuju dengan masyarakat dan nilai-nilainya?
  4. Apakah ‘ich’ untuk kelompok tertentu?
  5. Apakah ‘lyrische ich’ untuk mengekspresikan diri atau mempengaruhi pembaca dan mengarah pada tindakan?
  6. Sejauh mana ‘ich’ akan membuka dirinya untuk pembaca ?
  7. Sejauh mana akan dilakukan ‘ich’ sebagai reflektif kritis?
  8.  Diucapkan ironisnya, atau pernyataan serius?
  9. Apakah menggunakan bahasa sederhana?

 

DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

__________._____.Klasische Texte, Interpretationen, Lerhilfen.____:C. Bange Verlag.

__________._____.Arbeitsblӓtter Literatur für die Sek.1-Lyrik.Mülheim: Verlag an der Ruhr.

_____. Perkembangan pada abad pencerahan. (Online, (http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi), diakses 22 Maret 2011)

_________._____.(Online, http://glossar.schneider-ret.de/artikel/syntagma.htm), diakses 11 April 2011)

_________._____.(Online, http://de.wikipedia.org/wiki/Syntagma), diakses 11 April 2011)

_________._____.(Online,http://www.nzz.ch/nachrichten/kultur/literatur_und_kunst/tiefe_zaesur_1.676730.html), diakses 11 April 2011)

_________._____.(Online, http://www.euphemismus.de), diakses 11 April 2011)

_________._____.(Online, http://www.uni-protokolle.de/Lexikon/Rhetorische_Figuren.html), diakses 11 April 2011)

_________._____.(Online,http://www.kerbernet.de/literatur/deutsch/lyrik/lyrform_projekt/lyrfor13.htm), diakses 11 April 2011)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lyrik (9): Rhetorische Figuren

Rhetorische Figuren sind nicht nur für den Rhythmus eines Gedichts von Bedeutung, sondern natürlich auch für dessen inhaltliche Seite. Schon seit der Antike wird die Lehre von den Stilmitteln der Rethorik intensiv betrieben. Das besondere Kennzeichen lyrischer Texte ist das so genannte uneigentliche Sprechen. Der Dichter drückt sich anders aus als wir es in der Alltagssprache gewohnt sind. Er verwendet besondere Stilmittel, um sein Gedicht sprachlich zu gestalten. Die rhetorische Figuren sind der Schlüssel zum Verständnis der ,,lyrischen Sprache’’. Hier nur eine kleine Auswahl der wichtigsten rhetorischen Mittel :

A. Bild

 Darunter versteht man die zusammenfassende Bezeichnung für alle bildlichen (uneigentlichen) Ausdruckweisen in der Lyrik. Somit ist das Bild der Oberbegriff für eine Vielzahl anderer rhetorischer Figuren, wie z.B. Metapher oder Vergleich.

B. Metapher

Die Metapher wird häufig als wichtigstes rhetorisches Mittel angesehen. Dabei wird ein Wortaus seinem gebräuchlichen Sinnzusammenhang genommen und in andere Zusammenhänge eingefügt, sodass es eine neue Bedeutung erhält, z.B.

–             Löwe für tapfere Kämpfer

–             Dieser Politiker ist ein Fuchs. Sein Redefluß war nicht zu bremsen.

–             der Sonnenuntergang des Lebens

–             Wüstenschiff – Kamel

–             Rabeneltern – Eltern, die ihre Kinder vernachlässigen

–             Baumkrone – Die Spitze eines Baumes

C. Ironie

Entgegen dem wörtlich Ausgesagten, meint der Sprecher das genaue Gegenteil, z.B.

  • ,,das ist ja eine schöne Bescherung’’.
  • Du bist mir vielleicht ein Held!

Beispiele von Ironie aus dem Alltagsleben:

  • Ein Kollege hat einen Stapel Geschirr fallen lassen, dazu sagt ein Zuschauer: „Prima machst du das!“

D. Hyperbel

      Eine Hyperbel ist eine Übertreibung, sodass die Ausage wörtlich genommen nicht mehr zutreffend ist, z.B

–            ,,das hab ich dir schon tausendmal gesagt’’.

–            Er hat Hände wie ein Pflug.

–            Er ist fuchsteufelswild.

–            Todmüde

–            ein Meer von Tränen

–            unendlich lang

–            Schneckentempo

E. Euphemismus

Etwas Negatives wird durch eine posotive Bezeichnung beschönigt, z.B.

–          In Afghanistan gibt es keinen Krieg! Nur Kampfeinsätze!

–          In Deutschland gibt es keine Arbeitlosigkeit! Nur Leute ohne Jobs!

–          Er tickt nicht ganz sauber. Er ist verrückt.

–          entschlafen (statt: sterben)

–          beseitigen (statt: umbringen)

F. Vergleich

Beim Vergleich wird durch den Gebrauch von ,,wie’’, ,,als ob’’ u.ä eine Verbindung zwischen zwei Bereichen hergestellt, die etwas gemeinsam haben, z.B. ,,rot wie Blut’’.

–          Contoh : – Er hat Augen wie ein Luchs. 

–          Sie weint wie ein Kind.

–           ,,rot wie Blut’’.

Weitere Möglichkeiten sind u.a.:

  • A ist (nicht) wie B
  • A ist mehr/weniger als B
  • A ist genauso … wie B
  • A ist vergleichbar mit B
  • A ist beinahe/fast wie B

Beispiele:

–  Online-Shops schießen wie Pilze aus dem Boden.

–  Er war bleich wie der Tod.

–  Ich fühle mich wie das fünfte Rad am Wagen.

–  Nase, Hand, Gesicht und Ohren sind so schwarz als wie die Mohren.

–  Sie ist schön wie der junge Morgen.

G. Oxymoron

Hier werden Begriffe miteinander kombiniert, die sich eigentlich widersprechen, z.B.

–        bittere Süße

–        „Diese Fülle hat mich arm gemacht“

–        Auch wenn sie schweigen, sagen sie genug (Cicero)

–        O loving hate / Hassliebe (Shakespeare)

–        traurigfroh (Hölderlin)

H. Parallelismus

werden in aufeinander folgenden Sätzen in gleicher Weise angeordnet, z.B.

–        ,,weiß wie Schnee, schwarz wie Ebenholz’’.

–        Lang war der Weg, kurz war der Kampf

–        Vogel fliegt im Himmel, Fisch schwimmt ins Wasser, Mensch lӓuft auf der Straβe.

–        Sie hören weit, sie sehen fern.

–        Die Nacht ist dunkel, der Tag ist hell.

I. Personifikation

Tiere, unbelebte Dinge oder abstrakte Begriffe erhalten menschliche Attribute (Eigenschaften, Aktionen, Verhaltensweisen, Gefühle). Eine Erzählung wird durch dieses Stilmittel oft interessanter und lebendiger.

Beispiele:

–          „Der Dollarkurs liegt am Boden.“

–          „Der Tag verabschiedet sich.“

–          “Die Sonne lacht.”

–          “Der Himmel weint.”

–          Der Wind spielte mit ihren Haaren.

–          Das Auto wollte nicht auf mich hören.

J. Apostrophe

Unter einer Apostrophe versteht man die Anrede von Dingen uind Abstrakta, z.B.

–          ,,Frühling, ja du bist’s!’’

–          Besinge mir, Gottheit, den Zorn des Peliden Achilleus (Homer)

–          O du Stadt der Väter im Lande Theben und ihr Götter vor uns,
getrieben werde ich und zögere nicht mehr (Antigone bei Sophokles)

K. Ellipse

Verkürzter Satz (durch Auslassung von Wörtern)

Beispiele:

–          Nicht du, [sondern] ich!

–          [Das] Ende [ist] gut, alles [ist] gut!

–          Du willst doch wohl nicht …!

–          Ohne [ein] Wenn und [ein] Aber.

–          Was nun? (für: Was machen wir nun?)

L. Allegorie

M. Alliteration

Stabreim: gleiche Buchstaben im Wort- oder Silbenanfang

Beispiele:

bei Wind und Wetter
mit Kind und Kegel

N. Anapher

Wiederholung am Satz/Versanfang (Schema: x … / x … )

Beispiel :

  • Ich fordere Moral. Ich fordere Verständnis.
  • Wie herrlich leuchtet mir die Natur!
  • Wie glänzt die Sonne! Wie lacht die Flur!(Goethe: Mailied)

 –          Aufgestanden ist er, welcher lange schlief,
Aufgestanden unten aus Gewölben tief. […]“

–          „Der Krieg“, Georg Heym

–          Scipio hat Numantia vernichtet, Scipio [hat] Karthago zerstört, und Scipio/er [hat] Frieden gebracht […]“

Cicero

Wer soll nun die Kinder lehren und die Wissenschaft vermehren?
Wer soll nun für Lämpel leiten seines Amtes Tätigkeiten?“

Max und Moritz“, Wilhelm Busch

Lies keine Oden, mein Sohn, lies die Kursbücher, sie sind genauer.“

Hans Magnus Enzensberger

O Täler weit, o Höhen, o schöner, grüner Wald.“

 O. Antithese

Gegenüberstellung, Gegensatz

Beispiel:

–          gut und böse, arm und reich
Des einen Sieg ist des anderen Niederlage.

Polarität (Gedanklicher Gegensatz)

P. Epipher

Wiederholung am Satz/Versende (Schema: … x/ … x )

Ich fordere Moral ich lebe Moral.

Wiederholung wichtiger Wörter an Vers-/Satzenden; Gegensatz zu Anapher

“Doch alle Lust will Ewigkeit-, /
will tiefe, tiefe Ewigkeit!”

Beispiel

  • Mir geht es gut. Meinem Vater geht es gut. Dem Rest meiner Familie geht es gut. Allen geht es gut.
  • Vielleicht haltet ihr uns nicht für Idioten, jedenfalls macht ihr uns zu Idioten.
  • Ich lieb’ es nicht das fremde Land; ich hass’ es fast, das fremde Land
  • Doch alle Lust will Ewigkeit, will tiefe, tiefe Ewigkeit! (Das trunkene Lied – Friedrich Nietzsche)
  • Und das nur für Dich, für immer und Dich, für immer und dich (Für Immer und Dich – Rio Reiser)

 Q. Metonymie

Beispiele:

  • der Mauerfall am 9. November 1989 (Mauerfall = Sturz des DDR-Regimes)
  • Bagdad wies den Vorwurf zurück (Bagdad = Regierung, Übergangsregierung, Verantwortliche in der irakischen Hauptstadt)
  • eine Erklärung des Weißen Hauses (Weißes Haus = US-Regierung/Präsident)
  • Ich kaufe ein BMW

R. Paradox

In der Umgangssprache wird oft die widersprüchliche Wirkung von Paradoxa als rhetorische Stilfigur verwendet

Das einzig Beständige ist die Veränderung.

  • Je mehr Käse, desto mehr Löcher; je mehr Löcher, desto weniger Käse. → Je mehr Käse, desto weniger Käse

 S. Sarkasmus

Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme dapat saja bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang  jelas adalah bahwa gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Kata sarkasme diturunkan dari kata Yunani sarkasmos yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah”, atau “berbicara cengan kepahitan”.

“Und wird uns der ganze Verlag verboten,

So schwindet am Ende von selbst die Zensur.” (Heine: Bei des Nachtwächters Ankunft zu Paris).

Der Geschlagene ruft, anstelle zu weinen: „Natürlich! Gleich noch mal!“

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lyrik (8): Syntagma und Zäsur

A. Syntagma

Sintagma berasal dari bahasa Yunani yang berarti meletakkan bersama-sama di dalam kalimat. Dalam hal ini meletakkan dua kata yang saling berhubungan satu sama lain di dalam sebuah kalimat.

Menurut Ferdinand de Saussure terdapat 2  jenis dari hubungan antara elemen sistem bahasa. Selanjutnya semua berada di dalam kategori yang pasti.

Contohnya : sebuah kalimat yang menjadi penanda hubungan tata kalimat dengan yang lain.

Sintagma dapat juga disebut hubungan sistematis antara isi dengan bagian yang membedakan posisi di dalam penyusunannya.

Contoh :

(1) Dalam suatu kalimat terdapat ich dan bin yang saling berhubungan dalam tata kalimat. Artinya ich tidak dapat dipasangkan dengan bist.

(2) Studenten trinken gerne Bier. Hubungan tata kalimat yang terdapat di dalam kalimat tersebut adalah contohnya dalam kasus Genus dan Nomerus. Jadi kata kerja trinken berpengaruh terhadap Studenten, karena itu harus diperhatikan bentuk pluralnya, kalau tidak kalimat tersebut tidak sesuai dengan aturan tata bahasa.

B. Zäsur

Zӓsur berasal dari bahasa Latin “Schnitt” yang pada umumnya berarti potongan, atau dalam karya sastra dapat berarti penggalan atau pemenggalan. Jadi, Zӓsur merupakan pemenggalan atau waktu istirahat sejenak (jeda) pada saat membaca sebuah puisi.

Zӓsur seringkali ada, namun Zӓsur tidak selalu ada di dalam setiap puisi. Sebagai penandanya, biasanya pemenggalannya ditandai dengan tanda baca seperti koma(,), titik (.), titik koma (;), dan garis miring (/).

Contoh Zӓsur dapat dilihat dari karya Andreas Gryphius yang berjudul Alexandriner dari Es ist alles eitel (1637) berikut ini:

Du siehst, wohin du siehst, | nur Eitelkeit auf Erden.

Was dieser heute baut, | reißt jener morgen ein,

Wo itzund Städte stehn, | wird eine Wiese sein,

Auf der ein Schäfers Kind, | wird spielen mit den Herden.

Terdapat 3 jenis Zӓsur, yaitu:

  1. Die Trithemimeres  : Pemenggalan atau jeda yang terdapat setelah Halbversfuβ yang ketiga.

Contoh: Du siehst, wohin du siehst, | nur Eitelkeit auf Erden.

                           x      ‘x    |  x   ‘x | x    ‘x      |

  1. Die Penthemimeres : Pemenggalan atau jeda yang terdapat setelah Halbversfuβ yang kelima.

Contoh : Aus Brand und Glut erhebt das Volk sieghaft, sein lang zertreten Haupt!

     x      ‘x    |  x      ‘x  | x ‘x  |  x      ‘x   |  x   ‘x   | x     ‘x  |

  1. Die Hephthemimeres     : Pemenggalan atau jeda yang terdapat setelah Halbversfuβ yang ketujuh.

Contoh : Mit einem Dach und seinem Schatten dreht sich eine kleine Weile,

x   ‘ x |  x    x   |  x   x |  x     ‘ |  x    |   x   x|x   ‘x|x       ‘x|x

der Bestand von bunten Pferden, alle aus dem Land, das lange zӧgert, eh es untergeht.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lyrik (7): Enjambement

Enjambement berasal dari bahasa Perancis yang berarti peristiwa sambung-menyambungnya isi dua larik sajak yg berurutan.  Selain itu hal ini dilakukan karena bebrapa hal misalnya :

  1. Untuk keindahan bentuk Vers dalam bait
  2. Untuk keindahan rima suatu puisi
  3. Dll

Dalam membaca puisi biasanya terdapat pemberhentian singkat dalam Vers, tetapi terkadang jika dipahami seakan maknanya belum selesai atau belum dapat dipahami. Tetapi penyair beranggapan bahwa apabila dalam sebuah bait terdapat larik yang panjang, maka puisi tersebut kurang indah dan hanya seperti cerpen atau roman. Oleh karena itu penyair melakukan Enjambement pada puisi agar bait tersebut trlihat indah. Selain itu tidak ada batasan jumlah larik untuk membuat Enjambement, tetapi yang paling serin muncul hanya dua larik saja yang dipisah.

Lockung

Hörst du nicht die Bäume rauschen

Draußen durch die stille Rund?

Lockt’s dich nicht, hinabzulauschen

Von dem Söller in den Grund,

Wo die vielen Bäche gehen

Wunderbar im Mondenschein

Und die stillen Schlösser sehen

In den Floß vom hohen Stein?

 

Kennst du noch die irren Lieder

Aus der alten, schönen Zeit?

Sie erwachen alle wieder

Nachts in Waldeseinsamkeit,

Wenn die Bäume träumend lauschen

Und der Flieder duftet schwül

Und im Fluß die Nixen rauschen –

Komm herab, hier ist’s so kühl. (Joseph von Eichendorf)

 

Daftar Pustaka

Artikata.2011.enjambement.(online) (http://www.artikata.com/arti-326580-enjambemen.html diakses pada tanggal 28 Maret 2011)

Heuber, Max. 2004. Themen neu kursbuch 2. Jakarta: Katalis

Kasandikaganiarsa.multiply.2011.irama(online)

(http://kasandikaganiarsa.multiply.com/journal/item/9 diakses pada tanggal 28 Maret

2011)

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sayuti. 1985. Puisi dan Pengajarannya. Semarang: IKIP Semarang Press.

schule-am-pc.2011.strophe.(online) (http://www.schule-am-pc.de/Lyrik/Strophe/strophe.html diakses pada tanggal 28 Maret 2011)

Waluyo. 2005. Apresiasi Puisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Waluyo. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lyrik (6): Rhytmus

Rhythmus dalam bahasa Indonesia dapat kita artikan sebagai irama. Irama merupakan bagian dari struktur fisik dalam kajian puisi. Irama merupakan pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa irama merupakan pergantian berturut – turut secara teratur.

Menurut R.J. Pradopo, irama dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1.       Metrum

  • Metrum jambis, tiap kaki sajak terdiri dari sebuah suku kata tak bertekanan diikuti suku kata yang bertekanan
  • Metrum anapes, tiap kaki sajak terdiri dari tiga suku kata yang tak bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekan, kemudian diikuti suku kata yang bertekanan.
  • Metrum trochee atau trocheus, tiap kaki sajaknya terdiri dari suku kata yang bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekanan.

2.      Ritme / irama

Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi. Selain itu, Irama (bahasa Yunani: ‘mengalir’, atau dalam bahasa Yunani Modern, ‘gaya’) ialah kelainan penekanan bunyi-bunyi atau peristiwa-peristiwa lain yang berkait dengan berlangsungnya masa. “Irama melibatkan pola-pola jangka masa yang wujud pada tahap yang luar biasa dalam musik”, dengan jangka masa dikesani melalui jarak waktu interonset (London 2004, m.s. 4). Apabila ditentukan oleh peraturan ini, irama dipanggil meter. Irama wujud dalam mana-mana satu perantara bersandar masa, tetapi ia paling berkait dengan muzik, tarian, dan kebanyakan puisi.

Kajian irama, tekanan, dan nada dalam pertuturan dipanggil prosodi; irama adalah salah satu topik dalam linguistik. Semua ahli muzik, pemain muzik, dan penyanyi menggunakan irama, tetapi irama sering dianggap sebagai domain utama pemain dram dan pemain genderang.

Fungsi irama dalam puisi :

  • Puisi terdengar merdu
  • Mudah dibaca
  • Menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji-imaji) yang jelas dan hidup.
  • Menimbulkan pesona atau daya magis

Dalam menganalisis efek bunyi, Rene Wellek membagi: (a) beda pelaksanaan dan (b) pola bunyi. Pelaksanaan pola bunyi misalnya dengan membaca keras. Dalam membaca keras kita menambahkan sifat khas pada pola bunyi dan juga kita kadang-kadang menyembunyikan.

Bunyi dibedakan dua aspek yaitu inheren dan relasional. Aspek bunyi inheren adalah kekhususan bunyi a, o dan p. Aspek ini disebut sifat musik atau bunyi indah (musicality, euphony). Aspek kedua (relasional) adalah dasar irama dan guru lagu: nada (tinggi rendah), tempo (lama atau sebentar), dramatik (kuat atau lemah) dan pengulangan (jarang atau tetap).

Osip Brisk menggolongkan bunyi menurut jumlah pengulangan: (a) pengulangan berturut-turut dalam satu kelompok, (b) kedudukan bunyi dalam satuan irama yang terdiri dari:

  • Pengulangan yang sangat berdekatan (sajak berderet)
  • Pengulangan di awal dan di akhir
  • Pengulangan di akhir baris dan awal baris
  • Pengulangan di awal dan di akhir sanjak.

Pengulangan di awal dan di akhir biasanya kita kenal dengan Anapher dan Epipher.

  • Anapher

Dalam kamis besar bahasa Indonesia Anapher atau anafora merupakan pengulangan bunyi, kata atau struktur sintaksis pada larik-larik atau kalimat- kalimat yang berturutan untuk memperoleh efek tertentu. Dalam puisi Anapher merupakan pengulangan  suku kata, kata di awal baris dalam sebuah bait puisi.

Contoh:

(…)

Mein Aug steigt hinab zum Geschlecht der Geliebten:
wir sehen uns an,
wir sagen uns Dunkles,
wir lieben einander wie Mohn und Gedächtnis,
wir schlafen wie Wein in den Muscheln,
wie das Meer im Blutstrahl des Mondes.

(…)

Dalam puisi ini kata wir dapat kita golongkan sebagai Anapher. Pengulangan ini bertujuan untuk memberikan penekanan dalam pembacaan sebuah puisi.

  • Epipher

Merupakan pengulangan suku kata maupun kata di akhir baris dalam sebuah bait.

Contoh:

Wir spielen neben euch

Wir möchten mit euch spielen

Wir freun uns neben euch

Wir möchten uns mit euch freuen

Wir weinen neben euch

Wir möchten mit euch weinen

Wir warten neben euch

Wir möchten mit euch warten

Wir wohnen neben euch

Wir möchten mit euch wohnen

Wir sind unsicher neben euch

Wir möchten mit euch sicher sein

Ihr lebt neben uns

Wir möchten mit euch leben

Dalam karya sastra aspek irama (ukuran waktu atau tempo) juga penting dan persoalan  yang lebih penting adalah menerapkan sifat-sifat irama baik dalam puisi atau prosa. Dalam puisi, irama merupakan faktor penting. Sedangkan dalam prosa dipahami seperti irama dalam percakapan sehari-hari.

Metrum marupakan cara bagaimana membaca suatu kata dalam lirik diucapkan atau ditekankan.

3.  Melodi

Melodi adalah susunan deret suara yang teratur dan berirama (Kusbini, 1953:62). Melodi timbul karena pergantian nada kata-katanya, tinggi rendah bunyi yang berturut-turut. Makin kuat melodi nyanyian kian liris sajak itu. Bedanya melodi nyayian dengan puisi ialah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada sajak itu tak seberapa banyaknya dan intervalnya (jarak nada) itu juga terbatas. Irama, metrum, dan melodi itu bekerja sama dalam sajak hingga menghasilkan (merupakan) kesatuan yang indah padu.

4.  Tekanan

Tekanan dinamika; adalah tekanan pada kata yag terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak. Tekanan nada; adalah tekanan tinggi (rendah). Perasaan marah, gembira, dan heran sering menaikan suara, sedang perasaan sedih menurunkan suara. Tekanan tempo; adalah cepat lambatnya pengucapan suku kata, kata, atau kalimat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment